Carilah tempat terbaik, orang2 terbaik, dan bicarakan hal2 yg baik, insyallah qt akan jadi yang terbaik

Download Modul

Tampilkan postingan dengan label Kisah-Kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah-Kisah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 15 Januari 2012

DI JALAN TEMPAT PEDAGANG WANGI-WANGIAN

Seorang pengais sampah, yang sedang berjalan-jalan di tempat
orang   berjualan    wangi-wangian,    tiba-tiba    terjatuh
seakan-akan   mati.   Orang-orang  berusaha  menghidupkannya
kembali  dengan  bau-bauan  wangi,  namun  keadaannya  malah
semakin parah.
 
Akhirnya seorang bekas pengorek sampah datang; ia mengetahui
keadaan itu. Ia mendekatkan sesuatu  yang  berbau  busuk  di
hidung orang itu, yang segera saja segar kembali, teriaknya,
"Nah, ini dia wangi-wangian!"
 
Kamu harus  mempersiapkan  dirimu  bagi  keadaan  peralihan,
disana  tidak ada apa pun yang sudah biasa kaukenal. Setelah
mati,  dirimu  akan  harus  memberikan  tanggapan   terhadap
rangsangan yang di dunia ini masih bisa kaucoba rasakan.
 
Kalau  kau  tetap  terikat  pada beberapa hal yang kau kenal
akrab, kau hanya akan sengsara, seperti halnya  si  pengorek
sampah  yang  keadaannya menjadi gawat ditempat para penjual
wangi-wangian.
 
Catatan
 
Kisah  perumpamaan  ini  jelas  sekali   maknanya.   Ghazali
mempergunakannya   dalam   Alkemia   Kebahagiaan  pada  abad
kesebelas untuk menggarisbawahi  ajaran  Sufi,  bahwa  hanya
beberapa  saja diantara benda-benda yang kita kenal ini yang
memiliki pertalian dengan "dimensi lain."
 
------------------------------------------------------------
K I S A H - K I S A H   S U F I
Kumpulan kisah nasehat para guru sufi
selama seribu tahun yang lampau
oleh Idries Shah (terjemahan: Sapardi Djoko Damono)
Penerbit: Pustaka Firdaus, 1984

ULAR DAN MERAK

Pada  suatu  hari, seorang muda bernama Adi, Si Mesin Hitung
-karena ia belajar matematika- memutuskan untuk meninggalkan
Bhokara   guna  mencari  ilmu  yang  lebih  tinggi.  Gurunya
menasehatkan agar ia berjalan ke arah selatan, dan  katanya,
"Carilah  makna  Merak  dan  Ular."  tentu  saja anjuran itu
membuat Adi berpikir keras.
 
Ia mengembarai Khorasan dan  akhirnya  sampai  di  Irak.  Di
negeri  Irak,  ia benar-benar menemukan tempat yang terdapat
seekor merak dan seekor ular. Adipun mengajak bicara mereka.
Kedua  binatang  itu  berkata, "Kami sedang memperbincangkan
keunggulan kami masing-masing."
 
"Nah, justru itu yang ingin kuketahui," kata Adi.  "Teruskan
berbincang-bincang."
 
"Rasanya,  akulah  yang  lebih  berguna,"  kata  Merak. "Aku
melambangkan  cita-cita,  perjalanan  ke  langit   keindahan
sorgawi,  dan  karenanya  juga pengetahuan adiluhung. Adalah
tugasku untuk mengingatkan manusia, dengan  cara  menirukan,
tentang segi-segi dirinya yang tak dilihatnya."
 
 "Sebaliknya,  aku,"  kata  Ular,  sambil  mendesis pelahan,
"melambangkan hal itu juga.  Seperti  manusia,  aku  terikat
pada   bumi  Kenyataan  itu  menyebabkan  manusia  menyadari
dirinya.   Juga   seperti   manusia,   aku   lentur,    bisa
berkelok-kelok  menyusur  tanah.  Manusia  sering  melupakan
kenyataan itu. Menurut kisah ,  akulah  penjaga  harta  yang
tersembunyi di bumi."
 
"Tetapi  kau  menjijikkan," teriak Merak. "Kau licik, licin,
dan berbahaya."
 
"Kau  menyebut  sifat-sifat   kemanusiaanku,"   kata   Ular,
"sedangkan  aku  lebih  suka  menunjukkan sifat-sifatku yang
lain, yang sudah kusebut-sebut tadi. Sekarang, lihat  dirimu
sendiri:  kau  sombong, kegemukan, dan suaramu serak. Kakimu
terlalu besar, bulu-bulumu berlebihan panjangnya."
 
Sampai disini Adi menyela, "Hanya ketidak-cocokanmulah  yang
telah  menyebabkan  aku  mengetahui  bahwa tak ada di antara
kalian yang benar. Namun kita jelas-jelas  melihat,  apabila
kalian sama-sama meninggalkan keasyikan diri sendiri, secara
bersama-sama kalian bisa memberi pesan bagi kemanusiaan."
 
Dan,   sementara   dua    pihak    yang    bertengkar    itu
mendengarkannya,   Adi   menjelaskan   peran   mereka   bagi
kemanusiaan: "Manusia melata di tanah bagai Si Ular. Ia bisa
melayang  tinggi  bagai  Burung. Namun, karena tamak seperti
Ular,  ia  tetap  mempertahankan  kepentingan  diri  sendiri
ketika  berusaha  terbang, dan mereka menjadi seperti Merak;
terlampau  sombong.   Dalam   diri   Merak,   kita   melihat
kemungkinan   manusia,  namun  yang  tidak  tercapai  dengan
semestinya. Pada kilauan Ular, kita menyaksikan  kemungkinan
keindahan.   Pada  Merak,  kita  menyaksikan  keindahan  itu
menjadi terlalu berbunga-bunga."
 
Dan kemudian terdengar Suara  dari  dalam  berbicara  kepada
Adi,   "Itu  belum  lengkap.  Kedua  makhluk  itu  diberkahi
kehidupan, yang merupakan faktor penentu. Mereka  bertengkar
karena   masing-masing   telah   merasa   aman  dalam  jenis
kehidupannya sendiri, beranggapan bahwa  hal  itu  merupakan
perwujudan  suatu  kedudukan  yang  sebenarnya.  Namun, yang
seekor menjaga harta dan tidak bisa  mempergunakannya.  Yang
lain  mencerminkan  keindahan,  harta juga, namun tidak bisa
mengubah  dirinya  sendiri  menjadi  keindahan.  Di  Samping
ketidakmampuan  keduanya  untuk  mengambil  keuntungan  dari
kesempatan   yang   terbuka   bagi   mereka   keduanya   pun
melambangkan  kesempatan  itu  --tentu bagi mereka yang bisa
melihat dan mendengarnya."
 
Catatan
 
Pemujaan Ular dan  Merak  di  Irak  didasarkan  pada  ajaran
seorang  Syeh  Sufi,  Adi,  putra  Musafir,  pada abad kedua
belas. Pemujaan itu dianggap suatu misteri  oleh  kebanyakan
orientalis.
 
Kisah   ini,   yang   tercatat  dalam  legenda,  menunjukkan
bagaimana  guru-guru  darwis  membentuk  "mazhab-mazhab"-nya
berdasarkan  pelbagai  lambang,  yang  dipilih untuk memberi
contoh ajaran-ajarannya.
 
Dalam bahasa Arab, "Merak"  melambangkan  juga  "perhiasan;"
sedangkan  "Ular,"  memiliki  bentuk  huruf yang sama dengan
"organisme" dan "kehidupan." Oleh  karena  itu  perlambangan
Pemujaan  Malaikat  Merak  yang  tersembunyi  -Kaum Yezidis-
adalah suatu cara untuk menunjukkan "Bagian Dalam dan Luar,"
rumus rumus Sufi tradisional.
 
Pemujaan  itu  masih  ada  di  Timur  Tengah,  dan  memiliki
penganut (tak ada di antara mereka itu yang orang  Irak)  di
Inggris dan Amerika Serikat.
 
------------------------------------------------------------
K I S A H - K I S A H   S U F I
Kumpulan kisah nasehat para guru sufi
selama seribu tahun yang lampau
oleh Idries Shah (terjemahan: Sapardi Djoko Damono)
Penerbit: Pustaka Firdaus, 1984

SI TOLOL DAN UNTA YANG SEDANG MAKAN RUMPUT

Seorang Tolol memperhatikan seekor unta  yang  sedang  makan
rumput.  Katanya  kepada  binatang  itu, "Tampangmu mencong.
Kenapa begitu?"
 
Unta  menjawab,  "Dalam  menilai  kesan  yang  timbul,   kau
mengaitkan  kesalahan  dengan  hal  yang  mewujudkan bentuk.
Hati-hatilah terhadap hal  itu!  Jangan  menganggap  wajahku
yang buruk sebagai suatu kesalahan.
 
Pergi  kau  menjauh  dariku,  ambil  jalan lintas. Tampangku
mengandung  arti  tertentu,  punya  alasan  tertentu.  Busur
memerlukan  yang  lurus  dan  yang  bengkok, pegangannya dan
talinya."
 
Orang tolol,  enyahlah:  "Pemahaman  keledai  sesuai  dengan
sifat keledai."
 
Catatan
 
Maulana Majdud, yang dikenal sebagai Hakim Sanai, Sang Bijak
Yang  Gilang  Gemilang  dari  Ghaznas  menghasilkan   banyak
karangan  mengenai tak bisa dipercayanya kesan subyektif dan
penilaian bersyarat.
 
Salah  satu  petuahnya  adalah,  "Pada  cermin  rusak  dalam
fikiranmu, bidadari bisa tampak mempunyai wajah setan."
 
Kisah  perumpamaan  itu  dipetik  dari  Taman Kebenaran yang
Berpagar, yang ditulis sekitar tahun 1130.
 
------------------------------------------------------------
K I S A H - K I S A H   S U F I
Kumpulan kisah nasehat para guru sufi
selama seribu tahun yang lampau
oleh Idries Shah (terjemahan: Sapardi Djoko Damono)
Penerbit: Pustaka Firdaus, 1984

TOKO LAMPU

Pada  suatu  malam  gelap, dua orang bertemu di sebuah jalan
yang sunyi.
 
"Saya mencari sebuah toko  dekat-dekat  sini,  namanya  Toko
Lampu," kata yang pertama.
 
"Saya  kebetulan  orang  sini,  dan bisa menunjukkannya pada
saudara," kata orang kedua.
 
"Saya harus bisa menemukannya  sendiri.  Saya  sudah  diberi
petunjuk, dan sudah saya catat pula," kata yang pertama.
 
"Jadi, kenapa Saudara mengatakan hal itu kepada saya?"
 
"Iseng saja."
 
"Jadi Saudara ingin ditemani, tidak ditunjukkan arahnya?"
 
"Ya, itulah maksud saya."
 
"Tetapi  lebih  mudah bagi Saudara kalau ditunjukkan arahnya
oleh penduduk sini, sudah sejauh  ini:  apalagi  mulai  dari
sini jalannya sulit."
 
"Saya  percaya  pada  apa  yang sudah dikatakan kepada saya,
yang telah membawaku  sejauh  ini.  Saya  tidak  yakin  bisa
mempercayai sesuatu atau seseorang lain lagi."
 
"Jadi,  meskipun Saudara mempercayai pemberi keterangan yang
pertama, Saudara tidak diajar cara memilih orang  yang  bisa
Saudara percayai?"
 
"Begitulah."
 
"Saudara punya tujuan lain?"
 
"Tidak, hanya mencari Toko Lampu itu."
 
"Boleh  saya  bertanya:  kenapa  Saudara  mencari toko lampu
itu?"
 
"Sebab saya diberi tahu para ahli  bahwa  di  tempat  itulah
saya  bisa  mendapatkan  alat-alat  yang  memungkinkan orang
membaca dalam gelap."
 
"Saudara  benar,  tetapi  ada  syarat,  dan   juga   sedikit
keterangan. Saya ragu apakah mereka sudah memberitahukan hal
itu kepada Saudara."
 
"Apa itu?"
 
"Syarat untuk bisa membaca dengan lampu adalah bahwa Saudara
harus sudah bisa membaca."
 
"Saudara tidak bisa membuktikannya!"
 
"Tentu  saja  dalam  malam gelap semacam ini saya tidak bisa
membuktikannya."
 
"Lalu, ,sedikit keterangan, itu apa?"
 
"Sedikit keterangan itu adalah bahwa Toko Lampu itu masih di
sana, tetapi lampu-lampunya sudah dipindah ke tempat lain."
 
"Saya  tidak  tahu  'lampu'  itu  apa, tetapi tampaknya Toko
Lampu adalah tempat menyimpan  alat  tersebut.  Oleh  karena
itulah ia disebut Toko Lampu."
 
"Tetapi  'Toko Lampu' bisa mempunyai dua makna yang berbeda,
yang bertentangan. Yang pertama, 'Tempat di mana lampu-lampu
bisa  didapatkan;'  yang ke dua, "Tempat di mana lampu-lampu
pernah bisa didapatkan, tetapi kini tidak ada lagi."
 
"Saudara tidak bisa membuktikannya!"
 
"Saudara akan dianggap tolol oleh kebanyakan orang."
 
"Tetapi ada banyak orang yang akan menganggap Saudara tolol.
Mungkin  Saudara  bukan  Si Tolol. Saudara mungkin mempunyai
maksud tersembunyi, menyuruh  saya  pergi  ke  tempat  teman
Saudara  yang  berjualan  lampu.  Atau mungkin Saudara tidak
menginginkan saya mempunyai lampu sama sekali."
 
"Saya ini lebih buruk  dari  yang  Saudara  bayangkan.  Saya
tidak   menjanjikan  Saudara  'Toko  Lampu'  dan  membiarkan
Saudara menganggap bahwa masalah Saudara akan terpecahkan di
sana,  tetapi  saya  pertama-tama  ingin  mengetahui  apakah
Saudara ini bisa  membaca.  Saya  tentu  bisa  mengetahuinya
seandainya  Saudara  berada  dekat  sebuah toko semacam itu.
Atau apakah lampu bisa didapatkan bagi Saudara  dengan  cara
lain."
 
Kedua  orang  itu  saling  memandang, dengan sedih, sejenak.
Lalu masing-masing melanjutkan perjalanannya.
 
Catatan
 
Syeh-Per Syatari, penulis kisah ini, meninggal di India pada
tahun 1632. Makamnya di Meerut.
 
Ia   dipercaya   bisa  melakukan  hubungan  telepati  dengan
guru-guru "masa lampau, kini, dan masa depan,"  dan  memberi
mereka   kemudahan  untuk  menjelaskan  pesan  mereka  lewat
kepandaiannya  menyusun  kisah-kisah  berdasarkan  kehidupan
sehari-hari.
 
------------------------------------------------------------
K I S A H - K I S A H   S U F I
Kumpulan kisah nasehat para guru sufi
selama seribu tahun yang lampau
oleh Idries Shah (terjemahan: Sapardi Djoko Damono)
Penerbit: Pustaka Firdaus, 1984

TIGA NASEHAT

Pada suatu hari ada seseorang menangkap burung.  Burung  itu
berkata  kepadanya, "Aku tak berguna bagimu sebagai tawanan.
Lepaskan saja aku, nanti kuberi kau tiga nasehat."
 
Si Burung berjanji akan memberikan  nasehat  pertama  ketika
masih  berada  dalam  genggaman  orang  itu, yang kedua akan
diberikannya kalau ia sudah berada di cabang pohon, dan yang
ketiga ia sudah mencapai puncak bukit.
 
Orang itu setuju, dan meminta nasehat pertama.
 
Kata burung itu,
 
"Kalau  kau  kehilangan  sesuatu, meskipun kau menghargainya
seperti hidupmu sendiri, jangan menyesal."
 
Orang itupun melepaskannya, dan burung itu  segera  melompat
ke dahan.
 
Di sampaikannya nasehat yang kedua,
 
"Jangan percaya kepada segala yang bertentangan dengan akal,
apabila tak ada bukti."
 
Kemudian burung itu terbang ke puncak gunung. Dari  sana  ia
berkata,
 
"O  manusia malang! diriku terdapat dua permata besar, kalau
saja tadi kau membunuhku, kau akan memperolehnya!"
 
Orang itu sangat menyesal  memikirkan  kehilangannya,  namun
katanya,  "Setidaknya,  katakan  padaku  nasehat yang ketiga
itu!"
 
Si Burung menjawab,
 
"Alangkah tololnya kau,  meminta  nasehat  ketiga  sedangkan
yang   kedua  pun  belum  kaurenungkan  sama  sekali!  Sudah
kukatakan padamu agar jangan kecewa  kalau  kehilangan,  dan
jangan  mempercayai  hal yang bertentangan dengan akal. Kini
kau malah melakukan keduanya. Kau percaya pada hal yang  tak
masuk  akal  dan menyesali kehilanganmu. Aku toh tidak cukup
besar untuk bisa menyimpan dua permata besar!
 
Kau tolol. Oleh  karenanya  kau  harus  tetap  berada  dalam
keterbatasan yang disediakan bagi manusia."
 
Catatan
 
Dalam  lingkungan  darwis, kisah ini dianggap sangat penting
untuk  "mengakalkan"  pikiran  siswa   Sufi,   menyiapkannya
menghadapi   pengalaman   yang  tidak  bisa  dicapai  dengan
cara-cara biasa.
 
Di samping penggunaannya sehari-hari di kalangan Sufi, kisah
ini  kedapatan  juga  dalam klasik Rumi, Mathnawi. Kisah ini
ditonjolkan dalam Kitab Ketuhanan karya Attar, salah seorang
guru Rumi. Kedua pujangga itu hidup pada abad ke tiga belas.
 
------------------------------------------------------------
K I S A H - K I S A H   S U F I
Kumpulan kisah nasehat para guru sufi
selama seribu tahun yang lampau
oleh Idries Shah (terjemahan: Sapardi Djoko Damono)
Penerbit: Pustaka Firdaus, 1984

TIGA EKOR IKAN

Konon, di sebuah kolam tinggal tiga ekor ikan: Si Pandai, Si
Agak Pandai, dan  Si  Bodoh.  Kehidupan  mereka  berlangsung
biasa  saja  seperti  ikan-ikan lain, sampai pada suatu hari
ketika kolam itu kedatangan-seorang manusia
 
Ia membawa jala; dan Si Pandai melihatnya  dari  dalam  air.
Sadar   akan   pengalamannya,   cerita-cerita   yang  pernah
didengarnya, dan kecerdikannya, Si Pandai  memutuskan  untuk
melakukan sesuatu.
 
"Hampir  tak  ada  tempat berlindung di kolam ini," pikirnya
"Jadi saya akan pura-pura mati saja."
 
Ia mengumpulkan  segenap  tenaganya  dan  meloncat  ke  luar
kolam,  jatuh  tepat  di  kaki  nelayan  itu.  Tentu saja si
Nelayan  terkejut.  Karena  ikan  tersebut  menahan   nafas,
nelayan  itu  mengiranya  mati:  ia pun melemparkan ikan itu
kembali ke kolam. Ikan  itu  kemudian  meluncur  tenang  dan
bersembunyi di sebuah ceruk kecil dekat pinggir kolam.
 
Ikan  yang  kedua, Si Agak-Pandai, tidak begitu memahami apa
yang telah terjadi. Ia pun berenang mendekati Si Pandai  dan
menanyakan  hal  itu."  Gampang saja," kata Si Pandai, "saya
pura-pura mati, dan nelayan  itu  melemparkanku  kembali  ke
kolam."
 
Si Agak-Pandai itu pun segera melompat ke darat, jatuh dekat
kaki nelayan. "Aneh,"  pikir  nelayan  itu,  "ikan-ikan  ini
berloncatan ke luar air." Namun, Si Agak Pandai ini ternyata
lupa menahan nafas, dan iapun dimasukkan ke kepis.
 
Ia kembali  mengamat-amati  kolam,  dan  karena  agak  heran
memikirkan  ikan-ikan yang berloncatan ke darat, ia pun lupa
menutup kepisnya. Menyadari hal ini, Si Agak-Pandai berusaha
melepaskan   diri  ke  luar  dari  kepis,  membalik-balikkan
badannya, dan masuk kembali ke kolam. Ia  mencari-cari  ikan
pertama,    ikut   bersembunyi    di   dekatnya  --nafasnya
terengah-engah.
 
Dan ikan ke tiga, Si Bodoh, tidak bisa  mengambil  pelajaran
dari  segala  itu,  meskipun  ia telah mengetahui pengalaman
kedua ikan sebelumnya. Si Pandai dan Si Agak-Pandai  memberi
penjelasan  secara terperinci, menekankan pentingnya menahan
nafas agar di
 
"Terimakasih: saya sudah mengerti," kata Si Bodoh.  Sehabis
mengucapkan  itu, ia pun melemparkan dirinya ke darat, jatuh
tepat dekat kaki nelayan. Sang nelayan  langsung  memasukkan
ikan  ketiga itu kedalam kepisnya tanpa memperhatikan apakah
ikan itu bernafas atau tidak. Berulang  kali  dilemparkannya
jala  ke  kolam,  namun  kedua ikan yang pertama tadi dengan
aman bersembunyi dalam sebuah ceruk. Dan  kepisnya  sekarang
tertutup rapat.
 
Akhirnya  nelayan  itu  menghentikan  usahanya.  Ia  membuka
kepisnya, menyadari bahwa ternyata  ikan  yang  di  dalamnya
tidak  bernafas.  Ikan itupun dibawanya pulang untuk makanan
kucing.
 
Catatan
 
Konon, kisah ini disampaikan  oleh  Husein,  cucu  Muhammad,
kepada  Khajagan  ('Para  Pemimpin') yang pada abad ke empat
belas mengubah namanya menjadi Kaum Naqsahbandi.
 
Kadang-kadang peristiwanya terjadi di  sebuah  'dunia'  yang
dikenal sebagai Karatas, di Negeri Batu Hitam.
 
Versi  ini  dari Abdul 'Yang berubah' Afifi. Ia mendengarnya
dari  Syeh  Muhammad  Asghar,  yang  meninggal  tahun  1813.
Makamnya di Delhi.
 
------------------------------------------------------------
K I S A H - K I S A H   S U F I
Kumpulan kisah nasehat para guru sufi
selama seribu tahun yang lampau
oleh Idries Shah (terjemahan: Sapardi Djoko Damono)
Penerbit: Pustaka Firdaus, 1984

Tiga Orang Darwis

Konon, ada tiga orang darwis. Mereka bernama Yak, Do, dan Se. Mereka masing-masing berasal dari Utara, Barat, dan Selatan. Mereka memiliki suatu hal yang sama: berusaha mencari Kebenaran Dalam, oleh karenanya mereka mencari Jalan.
Yang pertama, Yak-Baba, duduk dan merenung sampai kepalanya pening. Yang kedua, Do-Aghas tegak dengan kepala di bawah sehingga kakinya kaku. Yang ketiga, Se-Kalandar, membaca buku-buku sampai hidungnya mengeluarkan darah.
Akhirnya mereka memutuskan untuk berusaha bersama-sama. Mereka mengundurkan diri ke tempat sunyi dan melakukan latihan bersama, mengharap agar ketiga kekuatan yang digabung akan cukup kuat untuk mendatangkan Kebenaran, yang mereka sebut Kebenaran Dalam.
Empat puluh hari empat puluh malam lamanya mereka bertahan menderita. Akhirnya, dalam pusaran asap putih muncullah kepala seorang lelaki yang sangat tua di hadapan mereka; tampaknya ia muncul dari tanah. "Apakah kau Kidir yang gaib itu, pemandu manusia?" tanya darwis pertama. "Bukan, ia Kutub, Tiang Semesta," sahut yang kedua. "Aku yakin, itu pasti tak lain salah seorang dari para Abdal. Orang-orang Yang Terubah," kata yang ketiga.
"Salah semua" teriak bayang-bayang itu keras-keras, "tetapi aku adalah apapun yang kau inginkan tentangku. Dan kini kalian menginginkan satu hal, yakni yang kau sebut Kebenaran Dalam?"
"Ya, O Guru," sahut mereka serentak.
"Pernahkah kalian mendengar peribahasa, ada banyak Jalan sebanyak hati manusia?" tanya kepala itu. Bagaimanapun, inilah jalanmu:
"Darwis pertama akan mengembara melalui Negeri Orang Tolol; Darwis Kedua harus menemukan Cermin Ajaib; Darwis Ketiga harus meminta pertolongan Jin Pusaran Air." Setelah berkata demikian, kepala itupun menghilang.
Mereka bertiga membicarakan masalah itu, tidak hanya karena mereka memerlukan penjelasan lebih lanjut sebelum berangkat, tetapi juga karena meskipun mereka semua telah mengadakan latihan berbagai cara, masing-masing percaya bahwa hanya ada satu cara yakni caranya sendiri, tentu saja. Dan kini, masing-masing tidak yakin benar bahwa caranya sendiri itu cukup berguna, meskipun boleh dikatakan telah mampu mendatangkan bayang-bayang yang baru saja mereka saksikan tadi, yang namanya sama sekali tidak mereka ketahui.


Yak-Babalah pertama-tama meninggalkan tempat samadinya; biasanya ia akan bertanya kepada orang yang ditemuinya, apakah ada orang bijaksana yang tinggal dekat-dekat daerah itu; tetapi kini ia bertanya apakah mereka mengetahui Negeri Orang Tolol. Akhirnya setelah berbulan-bulan lamanya, ada juga yang tahu, dan berangkatlah ia menuju kesana. Segera setelah ia memasuki negeri itu, dilihatnya seorang wanita menggendong pintu. "Wanita," tanyanya, "mengapa kau gendong pintu itu?" "Sebab, pagi tadi, sebelum berangkat kerja, suamiku berpesan: "Istriku, di rumah kita ini tersimpan harta berharga. Jangan kau perbolehkan orang melewati pintu ini."
Karena aku pergi, ku bawa pintu ini agar tidak ada yang melewatinya. Kini perkenankanlah saya melewatimu."
"Apakah saya boleh menjelaskan sesuatu agar kau tahu bahwa sebenarnya tak perlu kau bawa kemana-mana pintu itu?" tanya Darwis Yak-Baba. "Tidak usah," kata wanita itu.
"Satu-satunya yang bisa menolong adalah apabila Saudara bisa menjelaskan cara memperingan bobot pintu ini."
"Wah, itu saya tidak tahu," kata Darwis. Dan mereka pun berpisah.
Beberapa langkah kemudian ia menjumpai sekelompok orang. Mereka semua gemetar ketakutan di depan sebuah semangka besar yang tumbuh di ladang. "Kami belum pernah melihat raksasa itu sebelumnya," mereka menjelaskan kepada Darwis itu, "dan tentunya ia akan tumbuh semakin besar dan membunuh kami semua. Tetapi kami takut menyentuhnya."
"Bolehkah saya mengatakan sesuatu kepada kalian tentang itu?" tanyanya kepada mereka.
"Jangan goblok!" jawab mereka. "Bunuhlah ia, dan kau akan diberi hadiah, tetapi kami tidak mau tahu apapun tentangnya." Maka Darwis itupun mengeluarkan pisau, mendekati semangka itu, memotong seiris, dan kemudian mulai memakannya.
Di tengah-tengah jerit ketakutan yang hiruk-pikuk orang-orang itu memberinya uang. Ketika ia pergi, mereka berkata, "Kami mohon jangan kembali kemari, Tuan Pembunuh Raksasa. Jangan datang kemari dan memakan kami seperti tadi!"
Demikianlah, sedikit demi sedikit ia mengerti bahwa di Negeri Orang Tolol, agar bisa bertahan hidup, orang harus bisa berfikir dan berbicara seperti orang tolol. Setelah beberapa tahun lamanya, ia mencoba mengubah beberapa orang tolol menjadi waras, dan sebagai hadiahnya pada suatu hari Darwis itu mendapatkan Pengetahuan Dalam. Meskipun ia menjadi orang suci di Negeri Orang Tolol, rakyat mengingatnya hanya sebagai Orang yang Membelah Raksasa Hijau dan Meminum Darahnya. Mereka mencoba melakukan hal yang sama, untuk mendapatkan Pengetahuan Dalam --dan mereka tak pernah mendapatkannya.


Sementara itu, Do-Agha, Darwis Kedua, memulai perjalanannya mencari Pengetahuan Dalam. Kali ini ia tidak menanyakan tentang orang-orang suci atau cara-cara latihan yang baru, tetapi tentang Cermin Ajaib, Jawaban-jawaban yang menyesatkan sering didengarnya, namun akhirnya ia mengetahui tempat Cermin itu. Cermin itu tergantung di sumur pada seutas tali yang selembut rambut, dan sebenarnya hanya sebagian saja, sebab Cermin itu terbuat dari pikiran-pikiran manusia, dan tidak ada cukup pikiran untuk bisa membuatnya sebuah Cermin yang utuh. Setelah itu ia berhasil menipu raksasa yang menjaganya, Do-Agha menatap Cermin itu dan meminta Pengetahuan Dalam.
Sekejap saja ia sudah memilikinya. Iapun tinggal di sebuah tempat dan mengajar dengan penuh kebahagiaan beberapa tahun lamanya. Tetapi pengikut-pengikutnya tidak bisa mencapai taraf pemusatan pikiran yang diperlukan untuk memperbaharui cermin itu secara teratur, cermin itu pun lenyaplah. Namun, sampai hari ini masih ada orang-orang yang menatap cermin, membayangkan bahwa Cermin Ajaib Do-Agha, Sang Darwis.


Sedangkan Darwis Ketiga, Se-Kalandar, ia pergi ke mana-mana mencari Jin Pusaran Air. Jin itu dikenal dengan pelbagai nama, namun Se-Kalandar tidak mengetahuinya; dan bertahun-tahun lamanya ia bersilang jalan dengan Jin itu, senantiasa gagal menemuinya karena Jin itu di sana tidak dikenal sebagai Jin dan mungkin tidak dikait-kaitkan dengan pusaran air. Akhirnya, setelah bertahun-tahun lamanya, ia pergi ke sebuah dusun dan bertanya, "O Saudara-saudara! apakah ada diantara kalian yang pernah mendengar tentang Jin Pusaran Air?"
"Saya tak pernah mendengar tentang Jin itu," kata seseorang, "tetapi desa ini disebut Pusaran Air."
Darwis merubuhkan tubuhnya ke tanah dan berteriak, "Aku tak akan meninggalkan tempat ini sampai Jin Pusaran Air muncul di hadapanku!"
Dan Jin itu, yang sedang lewat dekat tempat itu, memutar langkahnya dan berkata, "Kami tidak menyukai orang asing di desa kami, darwis. Karena itu aku datang padamu. Nah, apa yang kau cari?"
Aku mencari Pengetahuan Dalam, dan aku diberi tahu bahwa dalam keadaan tertentu kau bisa mengatakan padaku bagaimana mendapatkannya.
"Tentu, aku bisa," kata Si Jin. "Kau telah mengalami banyak hal. Yang harus kau lakukan tinggal mengucapkan ungkapan ini, menyanyikan lagu itu, melakukan tindakan itu. Kau pun nanti akan mendapatkan Pengetahuan Dalam."
Darwis itu mengucapkan terima kasih kepada Jin, lalu memulai latihannya. Bulan-bulan berlalu, kemudian bertahun-tahun, sampai akhirnya ia berhasil melakukan pengabdian dan ketaatannya secara benar. Orang-orang datang dan menyaksikannya dan kemudian meniru-nirunya, karena semangatnya, dan karena ia dikenal sebagai orang yang taat dan saleh.
Akhirnya Darwis itu mencapai Pengetahuan Dalam; jauh meninggalkan pengikut-pengikutnya yang setia, yang meneruskan cara-caranya. Tentu saja mereka itu tidak pernah mencapai Pengetahuan Dalam, sebab mereka memulai pada akhir telaah Sang Darwis.


Setelah itu, apabila ada pengikut-pengikut ketiga Darwis itu bertemu, salah seorang berkata, "Aku memiliki kaca Tataplah, dan kau akan mencapai Pengetahuan Dalam." Yang lain menjawab, "Korbankan semangka, ia akan menolongmu seperti yang pernah terjadi atas Yak-Baba."
Yang ketiga menyela, "Tak mungkin: Satu-satunya cara adalah tabah dalam mempelajari dan menyusun latihan tertentu, sembahyang, dan bekerja keras."


Ketika pada kenyataannya ketiga Darwis itu berhasil mencapai Pengetahuan Dalam, mereka bertiga mengetahui bahwa tak mampu menolong mereka yang telah mereka tinggalkan di belakang: seperti ketika seorang terbawa oleh air pasang dan melihat di darat ada seorang diburu singa, dan tidak bisa menolongnya.

Catatan

Petualangan-petualangan orang-orang ini nama-nama mereka berarti "satu," "dua" dan "tiga" --kadang-kadang diartikan sebagai ejekan terhadap agama yang lazim.
Kisah ini merupakan ringkasan sebuah kisah ajaran yang terkenal, "Apa yang Terjadi atas Mereka Bertiga." Kisah ini dianggap sebagai ciptaan guru Sufi, Murad Shami, kepala Kaum Muradi, yang meninggal tahun 1719. Para darwis yang menceritakannya menyatakan bahwa kisah ini mempunyai pesan dalam yang jauh lebih penting dalam hal-hal praktis, daripada arti yang diluarnya saja.
------------------------------------------------------------
K I S A H - K I S A H  S U F I
Kumpulan kisah nasehat para guru sufi
selama seribu tahun yang lampau
oleh Idries Shah (terjemahan: Sapardi Djoko Damono)
Penerbit: Pustaka Firdaus, 1984

TIGA CINCIN BERLIAN

Pada zaman dahulu, ada seorang  bijaksana  dan  sangat  kaya
yang   mepunyai   seorang  anak  laki-laki.  Katanya  kepada
anaknya, "Ini cincin permata. Simpanlah sebagai bukti  bahwa
kau  ahli  warisku,  dan  nanti wariskan kepada anak-cucumu.
Harganya mahal, bentuknya indah, dan memiliki kemampuan pula
untuk membuka pintu kekayaan."
 
Beberapa   tahun   kemudian,  Si  Kaya  itu  mempunyai  anak
laki-laki  lagi.  Ketika  anak  itu  sudah  dewasa,  ayahnya
memberi pula cincin serupa, disertai nasehat yang sama.
 
Hal  yang  sama  juga  terjadi  atas  anak laki-lakinya yang
ketiga, yang terakhir.
 
Ketika Si  Tua  sudah  meninggal  dan  anak-anaknya  menjadi
dewasa,  masing-masing  mengatakan  keunggulannya sehubungan
dengan cincin yang dimilikinya. Tak ada seorangpun yang bisa
memastikan cincin mana yang paling berharga.
 
Masing-masing   anak  mempunyai  pengikut,  yang  menyatakan
cincinnya memiliki nilai dan keindahan lebih unggul.
 
Namun  kenyataan  yang  mengherankan  adalah   bahwa   pintu
kekayaan  itu  selama  ini  masih juga tertutup bagi pemilik
cincin itu, juga bagi  pengikutnya  terdekat.  Mereka  tetap
saja  meributkan hak yang lebih tinggi, nilai, dan keindahan
sehubungan dengan cincin tersebut.
 
Hanya beberapa orang saja yang mencari pintu kekayaan Si Tua
yang  sudah meninggal itu. Tetapi cincin-cincin itu memiliki
kekuatan magis juga. Meskipun disebut  kunci,  cincin-cincin
itu tidak bisa langsung dipergunakan membuka pintu kekayaan.
Sudah cukup kalau diperhatikan saja, salah  satu  nilai  dan
keindahannya  tanpa  rasa  persaingan  atau rasa sayang yang
berlebihan. Kalau hal itu dilakukan, orang  yang  melihatnya
akan   bisa   mengatakan  tempat  kekayaan  itu,  dan  dapat
membukanya dengan hanya menunjukkan  lingkaran  cincin  itu.
Harta itu pun memiliki nilai lain: tak ada habisnya.
 
Sementara    itu    para    pembela    ketiga   cincin   itu
mengulang-ngulang  kisah  leluhurnya   tentang   manfaatnya,
masing-masing dengan cara yang agak berbeda.
 
Kelompok  pertama  beranggapan  bahwa mereka telah menemukan
harta itu.
 
Yang kedua berpikir bahwa kisah itu hanya ibarat saja.
 
Yang ketiga menafsirkannya sebagai kemungkinan membuka pintu
kearah masa depan yang dibayangkan sangat jauh dan terpisah.
 
Catatan
 
Kisah ini, yang oleh beberapa pihak dianggap mengacu ke tiga
agama:  Judaisme,   Kristen,   dan   Islam,   muncul   dalam
bentuk-bentuk  yang berbeda dalam Gesta Romarzorum dan karya
Boccacio Decameron.
 
Versi di atas itu konon merupakan jawaban salah seorang guru
Sufi  Suhrahwardi, ketika ditanya mengenai kebaikan pelbagai
agama. Beberapa penanggap beranggapan ada unsur-unsur  dalam
kisah  ini  yang  menjadi  sumber karya Swift, Tale of a Tub
'Kisah sebuah Bak mandi.'
 
------------------------------------------------------------
K I S A H - K I S A H   S U F I
Kumpulan kisah nasehat para guru sufi
selama seribu tahun yang lampau
oleh Idries Shah (terjemahan: Sapardi Djoko Damono)
Penerbit: Pustaka Firdaus, 1984

Tiga Kebenaran

Para Sufi dikenal sebagai Pencari Kebenaran, yang berupa kenyataan obyektif. Konon, seorang tiran yang bodoh dan dengki memutuskan untuk memiliki kebenaran ini. Namanya Rudarigh, seorang raja besar di Marsia, Spanyol. Ia menetapkan bahwa kebenaran akan bisa didengarnya kalau Umar al-Alawi dari Tarragona dipaksa untuk mengatakannya.
Umar pun di tangkap dan dibawa ke Istana. Kata Rudarigh, "Aku telah memutuskan agar kebenaran yang kau ketahui harus kaukatakan kepadaku dalam kata-kata yang bisa kumengerti, kalau tidak nyawamu harus kau pertaruhkan."
Umar menjawab, "Apakah Tuan mengetahui kebiasaan dalam istana perkasa ini, apabila seorang yang ditahan mengungkapkan kebenaran sebagai jawaban atas suatu pertanyaan dan kebenaran itu tidak membuktikannya salah, maka ia akan dibebaskan kembali?"
"Memang demikian," kata Raja.
"Saya minta semua yang hadir di sini menjadi saksi," kata Umar, "dan saya tidak hanya akan mengungkapkan satu kebenaran, tetapi tiga."
"Kami juga harus yakin," kata Rudarigh, "bahwa yang kau sebut kebenaran itu memang benar-benar kebenaran. Harus ada bukti-bukti yang menyertainya."
"Bagi Raja seperti baginda," kata Umar, "yang pantas menerima tidak hanya satu kebenaran tetapi sekaligus tiga, kami juga akan bisa memberikan kebenaran yang nyata dengan sendirinya."
Rudarigh sangat puas menerima pujian itu.
"Kebenaran pertama," kata Si Sufi, "adalah, sayalah yang bernama Umar Si Sufi dari Tarragona. Yang kedua adalah bahwa Baginda akan melepaskan saya jika saya telah mengungkapkan kebenaran. Yang ketiga, Baginda ingin mendengarkan kebenaran yang bisa Baginda pahami."
Karena kesan yang ditimbulkan oleh kata-kata tersebut, Rajapun terpaksa membebaskan kembali darwis itu.

Catatan 

Cerita ini menampilkan legenda lisan darwis yang biasanya disusun oleh Al-Mutanabbi. Cerita-cerita ini, menurut juru ceritanya, tidak boleh dituliskan selama 1.000 tahun.
Al-Mutanabbi, salah seorang penyair Arab terbesar, meninggal seribu tahun yang lalu.
Salah satu ciri kumpulan cerita ini adalah bahwa selalu mengalami perubahan, disebabkan oleh penceritaan kembali terus-menerus sesuai dengan "perubahan zaman."

CARA MENANGKAP KERA

Konon,  ada  seekor  kera  yang sangat suka makan buah ceri.
Pada suatu hari ia melihat ceri yang menerbitkan liur. Iapun
turun  dari pohon untuk memetiknya. Tetapi ternyata buah itu
berada dalam sebuah botol gelas yang sangat bening.  Setelah
beberapa  kali  dicoba,  kera  itu  mengetahui bahwa ia bisa
memasukkan tangannya, ia mengepalkannya untuk memegang  buah
ceri  itu.  Namun, kemudian disadarinya bahwa tangannya yang
terkepal itu tidak bisa ditariknya ke luar  karena  ternyata
lebih besar dari leher botol.
 
Itu semua memang disengaja; buah ceri tersebut dipasang oleh
seorang pemburu kera yang mengetahui cara berpikir kera.
 
Si Pemburu mendengar  rengekan  kera,  datang  mendekat  dan
kerapun  berusaha  melarikan  diri.  Tetapi  karena, menurut
pikiran kera, tangannya lekat ke botol iapun tidak bisa lari
kencang.
 
Namun,  begitu pikirnya, ia masih menggenggam buah ceri itu.
Si Pemburupun menangkapnya. Sesaat kemudian siku kera itupun
dipukulnya sehingga genggamannya mengendor.
 
Kera  itu bebas dari botol, tetapi ia tertangkap. Si Pemburu
telah mempergunakan ceri dan botol.  dan  kini  kedua  benda
itupun masih menjadi miliknya.
 
Catatan
 
Kisah  ini adalah salah satu kisah-kisah dalam kumpulan yang
disebut Buku Amu Daria
 
Sungai Amu atau Jihun di  Asia  Tengah  dikenal  dalam  peta
modern  sebagai Oxus.  Bagi mereka yang berfikiran harafiah,
agak membingungkan bahwa kata itu  merupakan  istilah  untuk
bahan-bahan  tertentu  seperti  kisah  ini,  dan  juga untuk
kelompok  tanpa   nama   guru-guru   keliling   yang   pusat
kegiatannya  di  dekat  Aubshaur,  di  pegunungan Hindukush,
Afganistan.
 
Versi  ini  diceritakan  oleh  Khwaja  Ali  Ramitani,   yang
meninggal tahun 1306.
 
------------------------------------------------------------
K I S A H - K I S A H   S U F I
Kumpulan kisah nasehat para guru sufi
selama seribu tahun yang lampau
oleh Idries Shah (terjemahan: Sapardi Djoko Damono)
Penerbit: Pustaka Firdaus, 1984

SUMPAH

Pada suatu hari, seorang yang  kalut  pikirannya  bersumpah,
jika semua kesulitannya terpecahkan ia akan menjual rumahnya
dan semua hasil penjualan itu akan diberikannya kepada  kaum
miskin.
 
Akhirnya sampai juga saatnya, ia harus menunaikan sumpahnya.
Tetapi ia tidak ingin memberikan uang yang didapatnya. Iapun
mencari akal.
 
Ia  menjual  rumahnya  seharga seperak saja. Namun penjualan
itu  harus  sekalian  dengan  kucingnya.  Harga  kucing  itu
sepuluh ribu uang perak.
 
Rumah  itu  pun  terjual.  Dan  bekas  pemilik  rumah itupun
memberikan uangnya  yang seperak kepada  kaum  miskin,  yang
sepuluh ribu dimasukkan ke kantong sendiri.
 
Banyak  orang  berpikiran  demikian itu. Mereka berketetapan
menuruti pelajaran;  namun,  mereka  menafsirkan  sedemikian
rupa   agar   menguntungkan   dirinya  Sampai  mereka  mampu
mengalahkan kecenderungan itu dengan latihan khusus,  mereka
sebenarnya tidak bisa menarik pelajaran apa-apa.
 
Catatan
 
Akal-akalan   yang  digambarkan  dalam  kisah  ini,  menurut
pengisahnya  (Syeh  Nasir  Al-Din   Syah)   mungkin   memang
disengaja --atau mungkin menggambarkan pikiran tertutup yang
secara tak sadar menampilkan akal-akalan semacam itu.
 
Sang  Syeh,  yang  juga  dikenal  sebagai  "Pelita   Delhi,"
meninggal  tahun  1846. Makamnya di Delhi, India. Versi ini,
yang dianggap ciptaannya, berasal dari  tradisi  lisan  kaum
Chishti.  Kisah ini dipergunakan untuk memperkenalkan teknik
kejiwaan yang dimaksudkan untuk menenangkan jiwa, agar tidak
bisa   melaksanakan  tindak  akal-akalan  yang  menipu  diri
sendiri.
 
------------------------------------------------------------
K I S A H - K I S A H   S U F I
Kumpulan kisah nasehat para guru sufi
selama seribu tahun yang lampau
oleh Idries Shah (terjemahan: Sapardi Djoko Damono)
Penerbit: Pustaka Firdaus, 1984

SULTAN YANG MENJADI ORANG BUANGAN

Seorang   Sultan   Mesir   konon  mengumpulkan  orang  orang
terpelajar,  dan-seperti  biasanya--timbullah  pertengkaran.
Pokok  masalahnya  adalah  Mikraj  Nabi Muhammad. Dikatakan,
pada kesempatan tersebut Nabi diambil dari tempat  tidurnya,
dibawa  ke  langit.  Selama  waktu  itu ia menyaksikan sorga
neraka, berbicara dengan Tuhan  sembilan  puluh  ribu  kali,
mengalami   pelbagai   kejadian  lain--dan  dikembalikan  ke
kamarnya sementara tempat tidurnya masih hangat.  Kendi  air
yang terguling karena tersentuh Nabi waktu berangkat, airnya
masih belum habis ketika Nabi turun kembali.
 
Beberapa orang berpendapat bahwa hal itu benar, sebab ukuran
waktu disini dan di sana berbeda. Namun Sultan menganggapnya
tidak masuk akal.
 
Para ulama cendikia itu semuanya mengatakan bahwa segala hal
bisa  saja  terjadi  karena  kehendak  Tuhan.  Hal itu tidak
memuaskan raja.
 
Berita perbedaan pendapat itu akhirnya  didengar  oleh  Sufi
Syeh  Shahabuddin,  yang  segera saja menghadap raja. Sultan
menunjukkan kerendahan hati terhadap sang guru yang berkata,
"Saya bermaksud   segera      saja   mengadakan  pembuktian.
Ketahuilah bahwa kedua tafsiran itu keliru,  dan  bahwa  ada
faktor-faktor yang bisa ditunjukkan, yang menjelaskan cerita
itu tanpa harus mendasarkan pada perkiraan ngawur atau akal,
yang dangkal dan terbatas."
 
Di  ruang  pertemuan  itu  terdapat empat jendela. Sang Syeh
memerintahkan agar yang sebuah dibuka. Sultan melihat keluar
melalui  jendela  itu. Di pegunungan nunjauh disana terlihat
olehnya sejumlah besar perajurit menyerang,  bagaikan  semut
banyaknya, menuju ke istana. Sang Sultan sangat ketakutan.
 
"Lupakan saja, tak ada apa-apa," kata Syeh itu.
 
Ia menutup jendela itu lalu membukanya kembali. Kali ini tak
ada seorang perajurit pun yang tampak.
 
Ketika ia membuka jendela  yang  lain,  kota  yang  di  luar
tampak terbakar. Sultan berteriak ketakutan.
 
"Jangan  bingung,  Sultan;  tak ada apa-apa," kata Syeh itu.
Ketika pintu itu ditutup lalu dibuka kembali,  tak  ada  api
sama sekali.
 
Ketika   jendela   ketiga   dibuka,  terlihat  banjir  besar
mendekati istana. Kemudian ternyata lagi  bahwa  banjir  itu
tak ada.
 
Jendela  keempat  dibuka, dan yang tampak bukan padang pasir
seperti biasanya, tetapi sebuah taman firdaus.  Dan  setelah
jendela tertutup lagi, lalu dibuka, pemandangan itu tak ada.
 
Kemudian  Syeh  meminta  seember  air,  dan  meminta  Sultan
memasukkan kepalanya dalam air sesaat  saja  Segera  setelah
Sultan melakukan itu, ia merasa berada di sebuah pantai yang
sepi, di tempat yang  sama  sekali  tak  dikenalnya,  karena
kekuatan  gaib  Syeh  itu.  Sultan  marah  sekali  dan ingin
membalas dendam.
 
Segera saja Sultan bertemu dengan  beberapa  orang  penebang
kayu yang menanyakan siapa dirinya. Karena sulit menjelaskan
siapa dia sebenarnya, Sultan mengatakan bahwa  ia  terdampar
di  pantai  itu  karena  kapalnya  pecah.  Mereka memberinya
pakaian, dan iapun berjalan ke sebuah kota. Di kota itu  ada
seorang   tukang   besi  yang  melihatnya  gelandangan,  dan
bertanya siapa dia  sebenarnya.  Sultan  menjawab  bahwa  ia
seorang  pedagang  yang  terdampar, hidupnya tergantung pada
kebaikan hati penebang kayu, dan tanpa mata pencarian.
 
Orang  itu  kemudian  menjelaskan  tentang  kebiasaan   kota
tersebut.  Semua  pendatang  baru boleh meminang wanita yang
pertama ditemuinya, meninggalkan tempat  mandi,  dan  dengan
syarat  si  wanita itu harus menerimanya. Sultan itupun lalu
pergi ke tempat mandi umum, dan di  lihatnya  seorang  gadis
cantik  keluar  dari  tempat  itu. Ia bertanya apa gadis itu
sudah kawin: ternyata sudah. Jadi ia harus  menanyakan  yang
berikutnya,  yang wajahnya sangat buruk. Dan yang berikutnya
lagi. Yang ke empat sungguh-sungguh molek. Katanya ia  belum
kawin,  tetapi  ditolaknya  Sultan  karena tubuh dan bajunya
yang tak karuan.
 
Tiba-tiba ada seorang lelaki berdiri didepan Sultan katanya,
"Aku  disuruh  ke mari menjemput seorang yang kusut di sini.
Ayo, ikut aku."
 
Sultanpun mengikuti pelayan itu, dan dibawa  kesebuah  rumah
yang  sangat  indah.  Ia  pun duduk di salah satu ruangannya
yang megah berjam-jam lamanya. Akhirnya empat wanita  cantik
dan berpakaian indah-indah masuk, mengantarkan wanita kelima
yang lebih cantik lagi. Sultan mengenal wanita  itu  sebagai
wanita terakhir yang ditemuinya di rumah mandi umum tadi.
 
Wanita itu memberinya selamat datang dan mengatakan bahwa ia
telah bergegas pulang untuk  menyiapkan  kedatangannya,  dan
bahwa  penolakannya  tadi  itu  sebenarnya sekedar merupakan
basa-basi saja, yang dilakukan oleh  setiap  wanita  apabila
berada di jalan.
 
Kemudian  menyusul  makanan  yang  lezat.  Jubah yang sangat
indah disiapkan untuk  Sultan,  dan  musik  yang  merdu  pun
diperdengarkan.
 
Sultan  tinggal  selama  tujuh  tahun  bersama istrinya itu:
sampai  ia  menghambur-hamburkan  habis  warisan   istrinya.
Kemudian  wanita  itu  mengatakan  bahwa kini Sultanlah yang
harus menanggung hidup keduanya bersama ketujuh anaknya.
 
Ingat pada sahabatnya yang pertama di kota itu,  Sultan  pun
kembali  menemui  tukang  besi untuk meminta nasehat. Karena
Sultan tidak memiliki kemampuan  apapun  untuk  bekerja,  ia
disarankan pergi ke pasar menjadi kuli.
 
Dalam sehari, meskipun ia telah mengangkat beban yang sangat
berat, ia hanya bisa mendapatkan sepersepuluh dari uang yang
dibutuhkannya untuk menghidupi keluarganya.
 
Hari  berikutnya  Sultan  pergi  ke pantai, dan ia sampai di
tempat pertama kali dulu ia muncul di sini, tujuh tahun yang
lalu.  Ia pun memutuskan untuk sembahyang, dan mengambil air
wudhu: dan pada saat itu pula mendadak ia berada kembali  di
istananya,  bersama-sama dengan Syeh itu dan segenap pegawai
keratonnya.
 
"Tujuh tahun dalam  pengasingan,  hai  orang  jahat"  teriak
Sultan. "Tujuh tahun, menghidupi keluarga, dan harus menjadi
kuli: Apakah kau tidak takut kepada Tuhan, Sang Maha  Kuasa,
hingga berani melakukan hal itu terhadapku?"
 
"Tetapi kejadian itu hanya sesaat," kata guru Sufi tersebut,
"yakin waktu Baginda mencelupkan wajah ke air itu."
 
Para pegawai keraton membenarkan hal itu.
 
Sultan sama sekali tidak bisa mempercayai  sepatah  katapun.
Ia  segera  saja  memerintahkan  memenggal  kepala Syeh itu.
Karena  merasa  bahwa  hal  itu  akan  terjadi?   Syeh   pun
menunjukkan  kemampuannya  dalam Ilmu Gaib (Ilm el-Ghaibat).
Iapun  segera  lenyap  dari  istana  tiba-tiba   berada   di
Damaskus, yang jaraknya berhari-hari dari istana itu.
 
Dari kota itu ia menulis surat kepada Sultan:
 
"Tujuh  tahun  berlalu  bagi  tuan,  seperti yang telah tuan
rasakan  sendiri;  padahal  hanya  sesaat  saja  wajah  tuan
tercelup   di   air.  Hal  tersebut  terjadi  karena  adanya
kekuatan-kekuatan tertentu,  yang  hanya  dimaksudkan  untuk
membuktikan  apa  yang  bisa terjadi. Bukankah menurut kisah
itu, tempat tidur Nabi masih hangat dan kendi air itu  belum
habis isinya?
 
Yang  penting  bukanlah terjadi atau tidaknya peristiwa itu.
Segalanya mungkin terjadi. Namun, yang penting adalah  makna
kenyataan  itu.  Dalam  hal tuan, tak ada makna sama sekali.
Dalam hal Nabi, peristiwa itu mengandung makna."
 
Catatan
 
Dinyatakan, setiap ayat dalam  Quran  memiliki  tujuh  arti,
masing-masing    sesuai    untuk    keadaan   pcmbaca   atau
pendengarnya.
 
Kisah  ini,  seperti  macam  lain  yang  banyak  beredar  di
kalangan  Sufi,  menekankan  nasehat Muhammad, "Berbicaralah
kepada setiap orang sesuai dengan taraf pemahamannya."
 
Metode Sufi, menurut Ibrahim Khawas, adalah: "Tunjukkan  hal
yang  tak diketahui sesuai dengan cara-cara yang 'diketahui'
khalayak."
 
Versi ini berasal dari  naskah  bernama  Hu-Nama  "Buku  Hu"
dalam kumpulan Nawab Sardhana, bertahun 1596.
 
------------------------------------------------------------
K I S A H - K I S A H   S U F I
Kumpulan kisah nasehat para guru sufi
selama seribu tahun yang lampau
oleh Idries Shah (terjemahan: Sapardi Djoko Damono)
Penerbit: Pustaka Firdaus, 1984

SI TOLOL, SI BIJAK, DAN KENDI

Seorang tolol merupakan panggilan  bagi  orang  biasa,  yang
senantiasa  salah  menafsirkan apa yang terjadi atasnya, apa
yang dikerjakannya, atau apa yang dilakukan orang  lain.  Ia
melakukan  semuanya  itu  begitu  meyakinkan  sehingga  bagi
dirinya  dan  orang-orang  semacamnya  segi  kehidupan   dan
pemikiran yang luas tampak masuk akal dan benar.
 
Seorang  tolol  semacam  itu pada suatu hari disuruh membawa
kendi menemui seorang bijaksana  untuk  meminta  anggur.  Di
tengah   jalan,   karena   kecerobohannya   Si   Tolol   itu
membenturkan kendinya ke batu, dan pecah.
 
Ketika ia sampai dirumah orang bijaksana itu, ia  memberikan
pegangan   kendinya,   katanya,   "Tuan  Anu  menyuruh  saya
memberikan kendi ini kepada Tuan, tetapi di tengah jalan  ia
dicuri batu."
 
Karena terhibur dan ingin mendengar seluruh ceritanya, orang
bijaksana itu bertanya.
 
"Karena kendi itu telah di curi, kenapa kau berikan kepadaku
pegangannya?"
 
"Saya tidak setolol yang disangka orang," kata Si Tolol itu,
"oleh  karena  saya  membawa  pegangan   kendi   ini   untuk
membuktikan kebenaran ceritaku."
 
Catatan
 
Suatu pokok pembicaraan yang banyak beredar di kalangan guru
darwis  adalah  bahwa   kemanusiaan   umumnya   tidak   bisa
membedakan   suatu   kecenderungan   tersembunyi   di  balik
peristiwa-peristiwa,    yang    mestinya     memungkinkannya
memanfaatkannya  sepenuh-penuhnya. Mereka yang mampu melihat
kecenderungan itu disebut Sang  Bijaksana,  sementara  orang
kebanyakan disebut "tidur," atau di panggil Si Tolol.
 
Kisah  ini,  yang  dalam Bahasa Inggris dikutip oleh Kolonel
Wilberforce  Clarke  (Diwan-i-Hafiz)  merupakan  salah  satu
contoh  khas.  Dengan  menyerap  ajaran  itu lewat tokoh dan
kisah  yang  dilebih-lebihkan,  orang-orang  tertentu  mampu
benar-benar  "memekakan"  diri untuk menangkap kecenderungan
tersembunyi itu.
 
Kutipan ini berasal dari kumpulan kisah Sufi yang dikerjakan
oleh  Pir-i-do-Sara,  "Yang mengenakan Jubah Bertambal" yang
meninggal  tahun  1790  dan  dimakamkan  di  Mazar-i-Sharif,
Turkestan.
 
------------------------------------------------------------
K I S A H - K I S A H   S U F I
Kumpulan kisah nasehat para guru sufi
selama seribu tahun yang lampau
oleh Idries Shah (terjemahan: Sapardi Djoko Damono)
Penerbit: Pustaka Firdaus, 1984

SIFAT MURID

Diceritakan bahwa Ibrahim  Khawas,  ketika  ia  masih  muda,
ingin  mengikuti  seorang guru. Iapun mencari seorang bijak,
dan mohon agar diperbolehkan menjadi pengikutnya.
 
Sang Bijak berkata. "Kau belum lagi siap."
 
Karena anak muda itu  bersikeras  juga,  guru  itu  berkata,
"Baiklah,  aku  akan mengajarimu sesuatu. Aku akan berziarah
ke Mekkah. Kau ikut."
 
Murid itu teramat gembira.
 
"Karena kita mengadakan  perjalanan  berdua,  salah  seorang
harus menjadi pemimpin," kata Sang Guru "Kau pilih jadi apa?"
 
"Saya ikut saja, Bapak yang memimpin," kata Ibrahim.
 
"Tentu  aku  akan  memimpin, asal kau tahu bagaimana menjadi
pengikut," kata Sang Guru.
 
Perjalananpun dimulai. Sementara  mereka  beristirahat  pada
suatu  malam  di  padang  pasir Hejaz, hujan pun turun. Sang
guru bangkit dan memegangi kain penutup, melindungi muridnya
dari kebasahan.
 
"Tetapi  seharusnya  sayalah yang melakukan itu bagi Bapak,"
kata Ibrahim.
 
"Aku perintahkan agar kau memperbolehkan aku  melindungimu,"
kata Sang Bijak.
 
Siang  harinya,  anak  muda itu berkata, "Nah ini hari baru.
Sekarang  perkenankan  saya  menjadi  pemimpin,  dan   Bapak
mengikut saya." Sang gurupun setuju.
 
"Saya  akan  mengumpulkan  kayu,  untuk  membuat  api," kata
pemuda itu.
 
"Kau tak boleh melakukan itu; aku yang  akan  melakukannya,"
kata Sang Bijak.
 
"Saya  memerintahkan  agar  Bapak  duduk Saja sementara saya
mengumpulkan kayu!" kata pemuda itu.
 
"Kau tak boleh melakukan hal itu," kata orang bijaksana itu;
"sebab  hal  itu  tidak  sesuai dengan syarat menjadi murid;
pengikut  tidak  boleh  membiarkan  dirinya  dilayani   oleh
pemimpinnya."
 
Demikianlah,  setiap kali Sang Guru menunjukkan kepada murid
apa   yang   sebenarnya   makna   menjadi    murid    dengan
contoh-contoh.
 
Mereka berpisah di gerbang Kota Suci. Waktu kemudian bertemu
dengan orang bijaksana itu, Si pemuda tidak  berani  menatap
matanya.
 
"Yang  kaupelajari  itu,"  kata  Sang Bijak, "adalah sesuatu
yang berkaitan dengan sedikit menjadi murid."
 
Catatan
 
Ibrahim Khawas ('Si Penganyam Palem') memberi batasan  jalan
Sufi  sebagai,  "Biarkan  saja  apa  yang  dilakukan untukmu
dikerjakan orang untukmu. Kerjakan sendiri  apa  yang  harus
kau kerjakan bagi dirimu sendiri."
 
Kisah  ini  menggaris-bawahi dengan cara dramatik, perbedaan
antara apa yang dipikirkan calon pengikut tentang  bagaimana
seharusnya hubunganya dengan gurunya, dan bagaimana hubungan
tersebut dalam kenyataannya.
 
Khawas adalah salah seorang di antara guru-guru agung  zaman
awal,   dan   perjalanan  ini  dikutip  oleh  Hujwiri  dalam
Pengungkapan Yang Terselubung, ikhtisar  tertua  yang  masih
ada tentang Sufisme dalam Bahasa Persia.
 
------------------------------------------------------------
K I S A H - K I S A H   S U F I
Kumpulan kisah nasehat para guru sufi
selama seribu tahun yang lampau
oleh Idries Shah (terjemahan: Sapardi Djoko Damono)
Penerbit: Pustaka Firdaus, 1984

MEMBAWA SEPATU

Dua orang saleh dan terhormat pergi ke masjid  bersama-sama.
Yang pertama melepas sepatunya, lalu meletakkannya rapi-rapi
di luar pintu. Yang kedua melepaskan sepatunya, menangkupkan
di kedua solnya, lalu membawanya masuk masjid.
 
Sekelompok orang-orang saleh lain, yang duduk di dekat pintu
masjid. Terdengar pembicaraan tentang kedua orang yang  baru
masuk  tadi;  yang  mana diantara keduanya yang benar. "Jika
orang  masuk  mesjid  telanjang  kaki,  bukankah   sebaiknya
meninggalkan  saja  sepatunya  di  luar?"  tanya  seseorang.
Seorang yang lain menyambung, "Tetapi  tidakkah  kita  harus
mempertimbangkan  bahwa  orang  yang  membawa  sepatunya  ke
masjid itu selalu ingat akan dirinya?"
 
Ketika  dua  orang  saleh  itu  selesai  sembahyang,  mereka
ditanyai  secara  terpisah  tentang  masalah  itu oleh kedua
kelompok yang tadi berbeda pendapat.
 
Orang pertama menjawab, "Saya meninggalkan  sepatu  di  luar
masjid  atas  alasan  biasa.  Jika seandainya ada orang yang
ingin mencurinya, ia akan  berusaha  untuk  menahan  dirinya
agar  tidak  melakukan  tindakan  haram itu, dengan demikian
iapun  telah  mendapatkan  kebaikan  bagi  dirinya  sendiri.
"Pendengarnya  sangat  terkesan oleh ucapan orang yang saleh
itu, yang menganggap harta  miliknya  tak  begitu  berharga,
sehingga  diserahkan  begitu  saja kepada nasib yang mungkin
menimpanya.
 
Pada saat yang sama,  orang  kedua  berkata,  "Saya  membawa
sepatu  saya  ke  masjid  karena  apabila saya tinggalkan di
luar, mungkin akan menimbulkan  dorongan  untuk  mencurinya.
Siapa  pun  yang  tak  bisa  menahan  dorongan  ini tentulah
melibatkanku dalam dosanya." Pendengarnya  sangat  terkesan
oleh   pernyataan   yang  saleh  itu  dan  memuji  kedalaman
pikirannya.
 
Namun, ada orang lain,  yang  juga  bijaksana,  yang  berada
diantara  kerumunan itu, berteriak, "Sementara kalian berdua
dan para pengikutmu terbuai dalam perasaan  kecilmu,  saling
bicara  tentang  hal-hal  yang  diandaikan, ada hal-hal yang
sesungguh-sungguh nyata baru saja terjadi."
 
"Apa itu?" tanya kerumunan orang itu.
 
"Tak ada seorangpun yang tergoda oleh sepatu  itu.  Tak  ada
orang  yang  tak  tergoda  oleh  sepatu itu. Si pendosa yang
diandaikan itu tak pernah lewat. Namun, seseorang yang  sama
sekali  lain  telah  memasuki  masjid,  seseorang  yang  tak
memiliki sepatu-- yang tak memikirkan  akan  meninggalkannya
di  luar  pintu atau membawanya ke dalam. Tak ada seorangpun
yang memperhatikan perilakunya. Ia  tidak  menyadari  akibat
yang  di  timbulkannya  terhadap orang-orang yang melihatnya
atau  tak  melihatnya.  Namun,  karena   ketulusannya   yang
mendalam,  doa-doanya  di  masjid  hari  ini secara langsung
membantu meringankan orang-orang yang mungkin sunguh-sungguh
mencuri  atau  tidak  jadi  mencuri  atau  memperbaiki  diri
sendiri karena menghadapi godaan."
 
Apakah belum juga kau ketahui bahwa  sekedar  perilaku  yang
sepenuhnya    disadari,    betapapun    berharganya    dalam
pengertiannya  sendiri,  merupakan  hal  yang  tak   berarti
apabila  diketahui  bahwa  sesungguhnya ada orang-orang yang
sungguh-sungguh, bijaksana?
 
Catatan
 
Kisah ini, yang berasal dari ajaran Kaum Khilwati, didirikan
oleh  Khilwati  yang  meninggal  tahun  1397,  sering sekali
dikutip. Pokok pikirannya, yang tersebar  luas  di  kalangan
darwis,   adalah   keyakinan   bahwa   mereka   yang   telah
mengembangkan nilai-nilai batiniyah memiliki  pengaruh  yang
jauh  lebih  besar  terhadap masyarakat daripada mereka yang
berusaha  bertindak  berdasarkan  alasan  moral  saja.  Yang
pertama  disebut  "Manusia  Tindakan yang Sebenar-benarnya,"
yang kedua "Mereka yang Tak Tahu namun seolah-olah Tahu!"
 
------------------------------------------------------------
K I S A H - K I S A H   S U F I
Kumpulan kisah nasehat para guru sufi
selama seribu tahun yang lampau
oleh Idries Shah (terjemahan: Sapardi Djoko Damono)
Penerbit: Pustaka Firdaus, 1984

SEMUT DAN CAPUNG

Seekor semut yang pikirannya tersusun dalam rencana teratur,
sedang   mencari-cari  madu  ketika  seekor  capung  hinggap
menghisap madu dari bunga  itu.  Capung  itu  melesat  pergi
untuk kemudian datang kembali.
 
Kali ini Si Semut berkata,
 
"Kau  ini  hidup  tanpa  usaha,  dan  kau tak punya rencana.
Karena kau tak punya tujuan  nyata  ataupun  kira-kira,  apa
pula ciri utama hidupmu dan kapan pula berakhir?"
 
Kata Si Capung,
 
"Aku  bahagia, dan aku mencari kesenangan, ini jelas ada dan
nyata. Tujuanku adalah tanpa tujuan. Kau boleh  merencanakan
sekehendakmu; kau tak bisa meyakinkanku bahwa ada yang lebih
berharga daripada yang  kulakukan  ini.  Kaulaksanakan  saja
rencanamu, dan aku rencanaku."
 
Semut berpikir,
 
"Yang tampak padaku ternyata tak tampak olehnya. Ia tahu apa
yang terjadi pada semut. Aku  tahu  apa  yang  terjadi  pada
capung. Ia laksanakan rencananya, aku laksanakan rencanaku."
 
Dan  semutpun  berlalu,  sebab  ia  telah memberikan teguran
sebaik-baiknya dalam masalah itu.
 
Beberapa waktu sesudah itu, mereka pun bertemu lagi.
 
Si Semut menemukan kedai tukang daging, dan  ia  berdiri  di
bawah  meja  tumpuan  daging dengan bijaksana, menunggu saja
apa yang mungkin datang padanya.
 
Si Capung, yang melihat daging merah dari atas, menukik  dan
hinggap  diatasnya. Pada saat itu pula, parang tukang daging
berayun dan membelah capung itu menjadi dua.
 
Separoh tubuhnya jatuh  di  lantai  dekat  kaki  semut  itu.
Sambil  menangkap  bangkai  itu  dan  mulai  menyeretnya  ke
sarang, semut itu berkata kepada dirinya sendiri.
 
"Rencananya tamat sudah, dan rencanaku  terus  berjalan.  Ia
laksanakan   rencananya   -sudah  berakhir,  Aku  laksanakan
rencanaku -mulai  berputar.  Kebanggaan  tampaknya  penting,
nyatanya  hanya  sementara.  Hidup  memakan, berakhir dengan
dimakan.  Ketika  aku  katakan   hal   ini,   yang   mungkin
dipikirkannya adalah bahwa aku suka merusak kesenangan orang
lain."
 
Catatan
 
Kisah yang hampir serupa ditemukan juga dalam  karya  Attar,
Kitab  Ketuhanan,  meskipun penerapannya agak berbeda. Versi
ini dikisahkan  oleh  seorang  darwis  Bokhara  dekat  makam
Al-Syah,  yakni  Bahaudin  Naqsibandi, enam puluh tahun yang
lalu.  Sumbernya  adalah  buku  catatan  seorang  Sufi  yang
disimpan dalam Masjid Agung di Jalalabad.
 
------------------------------------------------------------
K I S A H - K I S A H   S U F I
Kumpulan kisah nasehat para guru sufi
selama seribu tahun yang lampau
oleh Idries Shah (terjemahan: Sapardi Djoko Damono)
Penerbit: Pustaka Firdaus, 1984

PENYUSUNAN SEJARAH

Konon, ada sebuah kota yang  terdiri  dari  dua  jalan  yang
sejajar. Seorang darwis berjalan lewat salah satu jalan itu,
dan ketika ia mencapai jalan  yang  satu  lagi,  orang-orang
melihat  matanya  berlinang air mata. "Ada yang meninggal di
jalan sebelah itu!"  teriak  seseorang.  Anak-anak  yang  di
sekitar itupun segera mendengar teriakan tersebut.
 
Yang  sebenarnya  terjadi  adalah  bahwa  darwis  itu  telah
mengupas bawang.
 
Dalam sekejap teriakan itu telah mencapai jalan pertama; dan
orang-orang  dewasa  di  kedua  jalan  itu  begitu sedih dan
khawatir (sebab masyarakat di kedua jalan itu  masih  saling
berebut)   sehingga   mereka  takut  mengusut  sebab-musabah
kehebohan itu sampai tuntas.
 
Seorang bijaksana berusaha  bernalar dengan  orang-orang  di
kedua   jalan  tersebut,  menanyakan  mengapa  mereka  tidak
mengusut  sebab-musababnya.  Dalam  keadaan  begitu  bingung
untuk  memahami  yang  dikatakannya  sendiri, beberapa orang
berucap, "Yang kami tahu, ada wabah di jalan sana."
 
Kabar burung ini pun menyebar  bagai  kobaran  api  sehingga
orang-orang  di  jalan  ini beranggapan orang-orang di jalan
yang lain tertimpa bencana; demikian pula sebaliknya.
 
Ketika ketenangan kembali terasa,  masing-masing  masyarakat
memutuskan  untuk pindah saja demi keselamatan. Demikianlah,
akhirnya kedua jalan di kota itu  sama  sekali  ditinggalkan
penghuninya.
 
Kini,  beberapa  abad kemudian, kota itu masih ditinggalkan;
tidak  berapa  jauh  darinya   terdapat   dua   buah   desa.
Masing-masing   desa   mempunyai  kisahnya  sendiri  tentang
bagaimana mula-mula rakyatnya  mengadakan  perpindahan  dari
sebuah  kota yang tertimpa bencana, beruntung bisa melarikan
diri dari  malapetaka  tak  dikenal,  pada  masa  yang  jauh
lampau.
 
Catatan
 
Dalam   ajaran   kejiwaannya,  para  Sufi  menyatakan  bahwa
penyampaian  pengetahuan  secara  biasa  mudah   menyebabkan
kekeliruan  karena  adanya  penambahan  atau pengurangan dan
ingatan yang salah; karenanya pengetahuan semacam itu  tidak
bisa  dipergunakan  sebagai pengganti persepsi langsung atas
kenyataan.
 
Kisah yang  menggambarkan  subyektivitas  otak  manusia  ini
dikutip dari buku  pelajaran Asrar-i-Khilwatia 'Rahasia Para
Pertapa,'  karangan  Syeh  Qalandar   Syah,   anggota   Kaum
Suhrawardi,  yang  meninggal tahun 1832. Makamnya di Lahore,
Pakistan.
 
------------------------------------------------------------
K I S A H - K I S A H   S U F I
Kumpulan kisah nasehat para guru sufi
selama seribu tahun yang lampau
oleh Idries Shah (terjemahan: Sapardi Djoko Damono)
Penerbit: Pustaka Firdaus, 1984

SANTAPAN DARI SORGA

Yunus,  putra  Adam,  pada suatu saat memutuskan untuk tidak
sekedar menyerahkan hidupnya pada nasib, tetapi mencari cara
dan alasan penyediaan kebutuhan manusia.
 
"Aku  manusia,"  katanya  kepada  dirinya  sendiri. "Sebagai
manusia aku mendapat sebagian dari kebutuhan  dunia,  setiap
hari.  Bagian itu aku dapat karena usahaku sendiri, didukung
oleh usaha orang lain juga.  Dengan  menyederhanakan  proses
ini,  aku  akan mencari tahu bagaimana cara makanan mencapai
manusia,  dan  belajar  sesuatu   mengenai   bagaimana   dan
mengapanya. Daripada hidup di dunia  kacau-balau ini, dimana
makanan dan kebutuhan lain jelas datang melalui  masyarakat,
aku  akan  menyerahkan  diriku kepada Penguasa langsung yang
memerintah segalanya. Pengemis hidup lewat perantara: Lelaki
dan  wanita  yang  pemurah, yang merelakan sebagian hartanya
berdasarkan desakan hati yang tidak sepenuh-penuhnya. Mereka
melakukan  itu  karena  telah  dididik berbuat demikian. Aku
tidak mau menerima sumbangan yang tidak langsung itu."
 
Selesai berbicara sendiri  itu,  iapun  berjalan  ke  tempat
terpencil,  menyerahkan dirinya kepada bantuan kekuatan gaib
dengan keyakinan yang sama  seperti  ketika  ia  menyerahkan
dirinya kepada bantuan yang kasat mata, yakni ketika ia dulu
menjadi guru di sebuah sekolah.
 
Ia pun jatuh  tertidur,  yakin  bahwa  Allah  akan  mengurus
kebutuhannya  sebaik-baiknya, sama seperti burung-burung dan
binatang  lain  mendapatkan  keperluannya  di  dunia  mereka
sendiri.
 
Waktu subuh, kicau burung membangunkannya, dan anak Adam itu
mula-mula  berbaring  saja,   menanti   munculnya   makanan.
Meskipun  ia mula-mula sepenuhnya menyerahkan dirinya kepada
kekuatan gaib dan yakin  bahwa  ia  akan  mampu  memahaminya
kalau  kekuatan  gaib  itu mula bekerja di tempat itu, Yunus
segera menyadari  bahwa  renungan  saja  tidak  akan  banyak
membantunya di medan yang tidak biasa ini.
 
Ia  berbaring  di tepi sungai, dan menghabiskan seluruh hari
memperhatikan  alam,   mengintai   ikan   di   sungai,   dan
bersembahyang.  Satu demi satu lewatlah orang-orang kaya dan
berkuasa, disertai pengiring  yang  naik  kuda  bagus-bagus;
terdengar  kelinting pakaian kuda menandakan keyakinan jalan
yang ditempuhnya, dan mendengar salam orang-orang itu karena
mereka    melihat    ikat    kepala    yang    dikenakannya.
Kelompok-kelompok penziarah beristirahat dan  mengunyah  kue
kering  dan  keju,  dan  air  liurnya  pun  semakin mengucur
membayangkan makanan yang paling sederhana.
 
"Ini hanya ujian, dan  semua  akan  segera  berlalu,"  pikir
Yunus,  ketika  ia  selesai mengerjakan sembahyang Isya, dan
memulai  tepekurnya  menurut  cara  yang  pernah   diajarkan
kepadanya  oleh seorang darwis yang memiliki pandangan tajam
dan luhur dalam mencapai tujuan.
 
Malam pun berlalu.
 
Dan Yunus sedang duduk menatap berkas-berkas sinar  matahari
yang  patah-patah  terpantul  di  Sungai  Tigris yang agung,
ketika lima jam  sesudah  subuh,  pada  hari  kedua,  tampak
olehnya  sesuatu  menyembul-nyembul  di  antara alang-alang.
Barang itu ternyata sebuah bungkusan daun yang diikat dengan
serabut kelapa.
 
Yunus,  anak Adam, terjun ke sungai dan mengambil benda aneh
itu.
 
Beratnya  sekitar  setengah   kilogram.   Ketika   dibukanya
pengikat  itu,  bau  yang  sedap menyerang lubang hidungnya.
Yunus mendapat halwa Bagdad. Halwa makanan itu, dibuat  dari
cairan buah badam, air mawar madu, dan kacang - dan pelbagai
bahan lain yang berharga - oleh  karenanya  sangat  digemari
karena  rasanya  yang  enak  dan khasiatnya yang tinggi bagi
kesehatan.  Putri-putri  cantik  penghuni  harem  menggigit-
gigitnya  karena rasanya yang enak; para prajurit membawanya
ke medan perang karena bisa menimbulkan ketahanan tubuh.  Ia
pun bisa dipergunakan untuk mengobati seratus penyakit.
 
"Keyakinanku  terbukti!"  kata  Yunus.  "Dan  kini   tinggal
mengujinya.  Jika  ada  halwa yang sebesar ini, atau makanan
yang sama,  diantarkan  kepadaku  lewat  sungai  ini  setiap
hari,  atau   pada    waktu-waktu  yang  teratur,  aku  akan
mengetahui cara  yang  ditempuh   oleh    Sang    Pemelihara
untuk  memberi  makanan    padaku.  Dan sesudah itu aku bisa
menggunakan akalku untuk mencari sumbernya."
 
Tiga hari berturut-turut  sesudah  itu,  pada  jam-jam  yang
tepat sama, sebungkus halwa terapung menuju ke tempat Yunus.
 
Ia  berkeyakinan  kuat bahwa hal itu merupakan penemuan yang
maha penting. Kita sederhanakan saja keadan kita,  dan  Alam
terus  menjalankan tugasnya dengan cara yang kira-kira sama.
Hal  itu  saja  melupakan  penemuan  yang  dirasanya   harus
disebarkan  ke  seluruh  dunia.  Bukankah  sudah  dikatakan,
"Kalau kau mengetahui sesuatu, ajarkan itu." Namun  kemudian
disadarinya  bahwa  ia  tidak mengetahui, ia baru mengalami.
Langkah berikutnya  yang  harus  ditempuh  adalah  mengikuti
jalan  halwa itu mudik sampai ia mencapai sumbemya. Tentu ia
nanti tidak hanya mengetahui asal usulnya, tetapi juga  cara
bagaimana makanan itu sengaja disediakan untuk dimakannya.
 
Berhari-hari lamanya Yunus mengikuti alur sungai setiap hari
secara teratur tetapi pada waktu yang semakin  lama  semakin
awal halwa itu muncul, dan Yunus memakannya.
 
Akhirnya  Yunus  melihat  bahwa  sungai  itu bukannya tambah
sempit di  udik,  tetapi  malah  melebar.  Di  tengah-tengah
sungai  yang  luas  itu  terdapat  sebidang  tanah yang amat
subur. Di tanah itu berdiri sebuah istana yang  kokoh  namun
indah. Dari sanalah, pikirnya, makanan itu berasal.
 
Ketika ia sedang memikirkan langkah berikutnya Yunus melihat
seorang darwis yang tinggi dan kusut, yang  rambutnya  kusut
bagaikan   pertapa  dan  pakaiannya  bertambal  warna-warni,
berdiri dihadapannya.
 
"Salam, Bapak," kata Yunus.
 
"Salam, huuu!" jawab pertapa itu keras. "Apa  pula  urusanmu
disini?"
 
"Saya  melakukan  suatu  penyelidikan  suci,"  anak Adam itu
menjelaskan, "dan saya harus mencapai  benteng  di  seberang
itu  untuk  menyempurnakannya.  Barangkali  Bapak mengetahui
akal agar saya bisa kesana?"
 
"Karena tampaknya kau tak mengetahui apa-apa  tentang  benda
itu,  walaupun  aku  sendiri  menaruh  minat  padanya," kata
pertapa itu, "akan kuberi tahu juga kau tentangya.
 
Pertama-tama, putri seorang  raja  tinggal  di  sana,  dalam
tawanan  dan  pembuangan, dijaga oleh sejumlah dayang-dayang
jelita, memang  enak, tetapi  terbatas  juga  geraknya. Sang
Putri  tidak bisa melarikan diri sebab lelaki yang menangkap
dan  memenjarakannya  disana  -karena  Sang  Putri   menolak
lamarannya-  telah mendirikan rintangan-rintangan yang kokoh
tak  terlampaui,  yang  tak  tampak  oleh  mata.  Kau  harus
mengungguli   rintangan-rintangan  itu  agar  bisa  memasuki
benteng dan mencapai tujuanmu."
 
"Bapak bisa menolong saya?"
 
"Aku sendiri sedang  akan  memulai  perjalanan  khusus  demi
pengabdian.  Tetapi,  kukatakan padamu rahasia sepatah kata,
Wazifa, yang-kalau memang sesuai untuk itu- akan  membantumu
mengumpulkan  kekuatan  gaib  para Jin berbudi, makhluk api,
yakni satu-satunya makhluk yang dapat  mengungguli  kekuatan
sihir  yang  telah  mengunci  benteng  tersebut.  Semoga kau
selamat." Dan  pertapa  itupun  pergi,  setelah  mengucapkan
suara-suara  aneh  berulang-ulang  dan  bergerak tangkas dan
cekatan, sangat mengagumkan mengingat  sosoknya  yang  patut
dimuliakan itu.
 
Berhari-hari  lamanya  Yunus duduk latihan dan memperhatikan
munculnya halwa. Kemudian, pada suatu  malam  ketika  sedang
disaksikannya  matahari  bersinar-sinar  di  menara benteng,
tampak olehnya pemandangan  yang  aneh.  Disana,  berkilauan
dalam   keindahan  sorgawi,  berdirilah  seorang gadis  yang
tentunya putri yang dikisahkan itu. Beberapa saat lamanya ia
berdiri   menyaksikan  matahari,  dan  kemudian  menjatuhkan
sesuatu ke ombak yang mengalun jauh di bawah  kakinya  -yang
dijatuhkannya  itu adalah halwa. Nah, ternyata itulah sumber
langsung karunianya.
 
"Sumber Makanan Sorga!" teriak Yunus. Kini ia merasa  berada
diambang  kebenaran.  Kapanpun  nanti,  Pemimpin  Jin,  yang
dipanggil-panggilnya lewat wazifa darwis, tentu datang,  dan
akan dapatlah ia mencapai benteng, putri, dan kebenaran itu.
 
Tidak  berapa lama sesudah pikiran itu melintas di benaknya,
ia merasa  dirinya  terbawa  terbang  melewati  langit  yang
tampaknya seperti kerajaan dongeng, penuh dengan rumah-rumah
yang indah mengagumkan. Ia memasuki salah satu  diantaranya,
dan  disana  berdiri  seorang  makhluk  bagai  manusia, yang
sebenarnya  bukan  manusia:  tampaknya  masih  muda,   namun
bijaksana, dan jelas sudah sangat tua. "Hamba," kata makhluk
itu, "adalah Pemimpin Jin,  dan  hamba  telah  membawa  Tuan
kemari sesuai dengan permintaan Tuan melalui Nama Agung yang
telah diberikan kepada Tuan oleh Sang Darwis Agung. Apa yang
bisa hamba lakukan untuk Tuan?"
 
"O  Pemimpin  Jin  yang  perkasa,"  kata Yunus gemetar, "aku
Pencari Kebenaran,dan jawaban  bagi  pencarianku  itu  hanya
bisa  aku  dapatkan di dalam benteng yang mempesona di dekat
tempatku berdiri ketika kau memanggilku ke mari. Berilah aku
kekuatan  untuk  memasuki  benteng  itu  dan untuk berbicara
kepada putri yang terkurung di sana."
 
"Permohonan dikabulkan!" kata  Sang  Pemimpin  Jin.  "Tetapi
ketahuilah,  orang  mendapatkan  jawaban  bagi pertanyaannya
sesuai  dengan  kemampuannya   memahami   dan   persiapannya
sendiri."
 
"Kebenaran  tetap  kebenaran,"  kata  Yunus,  "dan  aku akan
mendapatkannya, apa pun juga ujudnya nanti. Berikan anugerah
itu."
 
Segera  saja  Yunus  dikirim  cepat-cepat  dalam keadaan tak
kelihatan  (dengan  kekuatan  sihir   Jin),   dikawal   oleh
sekelompok  Jin  kecil-kecil  sebagai pembantunya, yang oleh
Pemimpinnya diberi tugas mempergunakan kepandaian  khususnya
untuk  membantu  manusia  yang sedang mencari kebenaran itu.
Ditangan Yunus ada sebuah batu cermin  khusus  yang  menurut
petunjuk    Pemimpinnya    diberikan   tugas   mempergunakan
kepandaian khususnya  untuk  membantu  manusia  yang  sedang
mencari  kebenaran  itu.  Di  tangan  Yunus  ada sebuah batu
cermin khusus  yang  menurut  petunjuk  Pemimpin  Jin  harus
diarahkan  ke benteng untuk melihat rintangan-rintangan yang
tak kelihatan.
 
Lewat  batu  itulah  anak  Adam  mengetahui  bahwa   benteng
tersebut  di  jaga  oleh  sederet raksasa, tak tampak tetapi
mengerikan, yang menghantam siapapun yang mendekat.  Jin-jin
pembantu yang ahli dalam tugas khusus berhasil menyingkirkan
mereka. Berikutnya  Yunus  melihat  ada  semacam  jala  atau
jaring  yang  tak  kelihatan,  yang menutupi seluruh benteng
itu. Itu pun bisa disingkirkan oleh  Jin-jin  yang  memiliki
kccerdikan   untuk   melaksanakan   tugasnya.  Akhirnya  ada
seonggokan batu  besar  yang  tak  kelihatan  yang  ternyata
memenuhi jarak antara benteng dan tepi sungai. Batu-batu itu
dibongkar semua oleh kelompok  Jin  tersebut,  yang  setelah
menjalankan tugas-tugasnya, memberi salam lalu pergi secepat
kilat ke tempat asalnya.
 
Yunus menyaksikan ada sebuah jembatan yang  dengan  kekuatan
gaib,  muncul  dari  dasar  sungai sehingga ia bisa berjalan
sampai ke benteng itu  dengan  tetap  kaki  kering.  Seorang
pengawal  gerbang  langsung membawanya menghadap Sang Putri,
yang kini bahkan tampak  lebih  elok  lagi  dari  pada  dulu
ketika pertama kali tampak.
 
"Kami   sangat   berterima  kasih  pada  Tuan  karena  telah
menghancurkan rintangan yang  mengurus  benteng  ini,"  kata
putri  itu. "Dan sekarang saya bisa pulang ke ayah dan ingin
sekali memberi hadiah Tuan yang telah bersusah-payah  selama
ini.  Katakan,  sebut  apa saja, dan saya akan memberikannya
kepada Tuan."
 
"Mutiara tiada tara," kata Yunus, "hanya ada satu  hal  yang
saya cari, yakni kebenaran. Karena sudah merupakan kewajiban
siapa pun yang memiliki kebenaran  untuk  memberikan  kepada
siapapun  yang  bisa  memanfaatkannya,  saya  memohon dengan
sangat, Yang Mulia, agar memberikan  kebenaran  yang  sangat
saya butuhkan."
 
"Katakan,   dan  kebenaran  yang  bisa  saya  berikan,  akan
sepenuhnya menjadi milik Tuan."
 
"Baiklah, Yang  Mulia.  Bagaimana,  dan  atas  perintah  apa
Makanan  Sorga,  yakni  halwa yang setiap harinya Tuan Putri
berikan  kepada  saya  itu,  diatur   pengirimannya   secara
demikian?"
 
"Yunus,  anak  Adam,"  kata  Sang Putri, "halwa, begitu nama
yang  kauberikan,  yang  saya  lemparkan  setiap  hari   itu
sebenarnya  tak  lain sisa-sisa bahan perias yang saya gosok
setelah saya mandi air susu keledai."
 
"Akhirnya saya  memahami,"  kata  Yunus,  "bahwa  pengertian
manusia  sesuai  dengan  syarat kemampuannya untuk mengerti.
Bagi Tuan Putri, itu merupakan sisa bahan perias. Bagi saya,
Makanan Sorga."
 
Catatan
 
Menurut  Halqawi  (penulis  kisah ini), hanya beberapa kisah
Sufi yang bisa dibaca  oleh  siapapun  waktu  kapanpun,  dan
tetap bisa memberikan perbaikan "kesadaran batin."
 
"Hampir semua yang lain," katanya, "tergantung pada di mana,
kapan,   dan   bagaimana   kisah-kisah    itu    dipelajari.
Demikianlah,  kebanyakan  orang  akan menemukan hal-hal yang
mereka harapkan: hiburan, teka-teki, ibarat."
 
Yunus, anak Adam, adalah orang Suriah, meninggal tahun 1670.
Ia  memiliki  kekuatan  penyembuhan yang luar biasa dan juga
seorang penemu.
------------------------------------------------------------
K I S A H - K I S A H   S U F I
Kumpulan kisah nasehat para guru sufi
selama seribu tahun yang lampau
oleh Idries Shah (terjemahan: Sapardi Djoko Damono)
Penerbit: Pustaka Firdaus, 1984

ORANG-ORANG YANG SAMPAI

Imam Al-Ghazali mengisahkan suatu cerita dalam kehidupan Isa
bin Maryam.
 
Pada suatu hari Isa melihat orang-orang  duduk  bersedih  di
sebuah tembok, dipinggir jalan.
 
Tanyanya, "Apa gerangan yang merundungmu semua?"
 
Jawab  mereka,  "Kami menjadi seperti ini lantaran ketakutan
kami menghadapi neraka."
 
Isapun meneruskan perjalanannya, dan melihat sejumlah  orang
berkelompok  berduka  dalam  berbagai  gaya dipinggir jalan.
Katanya,  "Apa  gerangan  yang  merundung  kalian?"   Mereka
menjawab,  "Keinginan  akan  sorga  telah membuat kami semua
begini."
 
Isa pun melanjutkan perjalanannya, sampai ia bertemu  dengan
kelompok  ketiga.  Tampaknya orang-orang itu telah menderita
amat sangat, tetapi wajah mereka bersinar bahagia.
 
Isa bertanya, "Apa gerangan yang telah membuatmu begitu?"
 
Mereka menjawab, "Semangat  Kebenaran.  Kami  telah  melihat
Kenyataan,  dan  hal  itu  telah  menyebabkan kami melupakan
tujuan-tujuan lain yang sepele."
 
Isa  berkata,  "Orang-orang  itu  telah  sampai.  Pada  Hari
Perhitungan  nanti,  merekalah  yang  akan  berada  di  Sisi
Tuhan."
 
Catatan
 
Kisah Sufi tentang Yesus ini sering mengejutkan mereka  yang
percaya   bahwa  kemajuan  rohaniah  hanya  tergantung  pada
pengolahan masalah ganjaran dan siksa.
 
Para Sufi mengatakan bahwa hanya orang-orang  tertentu  bisa
mengambil keuntungan dari pelibatan diri pada masalah untung
atau  rugi;  dan  bahwa  hal  ini  mungkin  hanya  merupakan
sebagian  saja  dari  pengalaman  orang-seorang. Mereka yang
telah mempelajari  pelbagai  cara  dan  akibat  keadaan  dan
pencekokan  (conditioning and indoctrination) mungkin merasa
sepakat dengan pandangan tersebut.
 
Tentu   saja,   kaum   agamawan   formal,   dalam   pelbagai
keyakinannya  tidak  mengakui  bahwa  pilihan sederhana atas
baik-buruk, ketegangan-kelonggaran, ganjaran-siksa  hanyalah
sekedar   bagian-bagian   suatu   sistem  lebih  besar  dari
kesadaran diri.
 
------------------------------------------------------------
K I S A H - K I S A H   S U F I
Kumpulan kisah nasehat para guru sufi
selama seribu tahun yang lampau
oleh Idries Shah (terjemahan: Sapardi Djoko Damono)
Penerbit: Pustaka Firdaus, 1984

MIMPI DAN IRISAN ROTI

Tiga  orang  musafir  menjadi sahabat dalam suatu perjalanan
yang jauh dan  melelahkan;  mereka  bergembira  dan  berduka
bersama, mengumpulkan kekuatan dan tenaga bersama.
 
Setelah  berhari-hari  lamanya  mereka  menyadari bahwa yang
mereka miliki tinggal  sepotong  roti  dan  seteguk  air  di
kendi.  Mereka  pun  bertengkar  tentang  siapa  yang berhak
memakan dan meminum bekal tersebut.  Karena  tidak  berhasil
mencapai  persesuaian  pendapat,  akhirnya mereka memutuskan
untuk membagi saja makanan dan  minuman  itu  menjadi  tiga.
Namun, tetap saja mereka tidak sepakat.
 
Malampun  turun;  salah seorang mengusulkan agar tidur saja.
Kalau besok mereka  bangun,  orang  yang  telah  mendapatkan
mimpi yang paling menakjubkan akan menentukan apa yang harus
dilakukan.
 
Pagi berikutnya, ketiga musafir itu bangun  ketika  matahari
terbit.
 
"Inilah   mimpiku,"   kata  yang  pertama.  "Aku  berada  di
tempat-tempat yang tidak bisa digambarkan, begitu indah  dan
tenang.   Aku   berjumpa   dengan   seorang  bijaksana  yang
mengatakan kepadaku, 'Kau berhak makan  makanan  itu,  sebab
kehidupan  masa lampau dan masa depanmu berharga, dan pantas
mendapat pujian."
 
"Aneh sekali," kata musafir kedua. "Sebab dalam mimpiku, aku
jelas-jelas  melihat  segala  masa  lampau dan masa depanku.
Dalam  masa  depanku,  kulihat  seorang  lelaki  maha  tahu,
berkata,   'Kau   berhak   akan   makanan   itu  lebih  dari
kawan-kawanmu, sebab  kau  lebih  berpengetahuan  dan  lebih
sabar.  Kau  harus  cukup makan, sebab kau ditakdirkan untuk
menjadi penuntun manusia."
 
Musafir ketiga  berkata,  "Dalam  mimpiku  aku  tak  melihat
apapun,  tak  berkata  apapun.  Aku merasakan suatu kekuatan
yang memaksaku  bangun,  mencari  roti  dan  air  itu,  lalu
memakannya   di  situ  juga.  Nah,  itulah  yang  kukerjakan
semalam."
 
Catatan
 
Kisah ini salah sebuah yang dianggap merupakan karangan Syah
Mohammad  Gwath  Syatari,  yang  meninggal  tahun  1563.  Ia
menulis risalah terkenal, Lima Permata,  yang  menggambarkan
cara pencapaian taraf lebih tinggi manusia dalam terminologi
sihir dan tenaga  gaib,  yang  didasarkan  pada  model-model
kuno.  Ia  merupakan  Guru  yang telah melahirkan lebih dari
empat belas Kaum dan sangat dihargai  oleh  Maharaja  India,
Humayun.
 
Meskipun  ia  dipuja-puja  beberapa  kalangan  sebagai orang
suci, beberapa tulisannya  dianggap  oleh  golongan  pendeta
sebagai  menyalahi  aturan  suci,  dan oleh karenanya mereka
menuntutnya  agar  dihukum.  Ia  akhirnya  dibebaskan   dari
tuduhan  murtad, karena hal-hal yang dikatakan dalam keadaan
pikiran yang  istimewa  tidak  bisa  dinilai  dengan  ukuran
pengetahuan  biasa.  Makamnya  di  Gwalior,  yang  merupakan
tempat ziarah Sufi yang sangat penting.
 
Alur yang sama juga dipergunakan dalam  kisah-kisah  Kristen
yang tersebar di kalangan pendeta pada abad pertengahan.
 
------------------------------------------------------------
K I S A H - K I S A H   S U F I
Kumpulan kisah nasehat para guru sufi
selama seribu tahun yang lampau
oleh Idries Shah (terjemahan: Sapardi Djoko Damono)
Penerbit: Pustaka Firdaus, 1984