Carilah tempat terbaik, orang2 terbaik, dan bicarakan hal2 yg baik, insyallah qt akan jadi yang terbaik

Download Modul

Minggu, 15 Januari 2012

KETIKA MAUT DATANG KE BAGDAD

Pada suatu hari, pengikut  seorang  Sufi  di  Bagdad  sedang
duduk  di sudut sebuah warung ketika didengarnya dua mahkluk
sedang bercakap-cakap. Berdasarkan  apa  yang  dipercakapkan
itu,  pengikut  Sufi  tersebut  mengetahui  bahwa salah satu
diantara yang sedang berbicara itu adalah Malaikat Maut.
 
"Saya bertugas menemui sejumlah orang  di  kota  ini  selama
tiga  minggu  mendatang."  kata Malaikat itu kepada temannya
bicara.
 
Karena takut, pengikut Sufi itu menyembunyikan  diri  sampai
yang  berbicara  itu berlalu. Kemudian, setelah memeras otak
bagaimana  caranya  menghindarkan   diri   dari   maut,   ia
memutuskan  bahwa  apabila  ia menjauhkan diri dari Bagdad,
tentunya Maut tak akan bisa mencapainya. Berdasarkan  alasan
itu,  iapun segera menyewa kuda yang tercepat, dan memacunya
siang malam menuju Samarkand.
 
Sementara itu Malaikat Maut menemui guru Sufi; mereka berdua
membicarakan   beberapa   orang.   "Dan   di  mana  gerangan
pengikutmu Si Anu?" tanya Maut.
 
"Tentunya  ia  ada  di  kota,  sedang  merenungkan  sesuatu,
mungkin di sebuah warung minum," jawab Sang Guru.
 
"Aneh," kata Sang Malaikat. "Ia terdapat dalam daftarku. Ya,
betul, ini dia; dan aku harus menjemputnya dalam waktu empat
minggu ini di Samarkand, ya, Samarkand."
 
Catatan
 
Versi  kisah  ini  diambil  dari  Hikayat -i- Naqshia 'Kisah
Nasib.'
 
Pencipta kisah ini, kisah  yang  sangat  digemari  di  Timur
Tengah,  adalah  Sufi  Agung Fudail bin Ayad, bekas perampok
yang meninggal pada awal abad kesembilan.
 
Menurut  cerita  Sufi,  yang  dikukuhkan  oleh  bahan-bahan
sejarah,  Harun  Al-Rasyid Kalifah Bagdad mencoba memusatkan
segala pengetahuan di istana dalam pengayomannya, tetapi tak
ada seorangpun yang menghendaki Raja Segala Raja itu meminta
bantuan dalam menjalankan tugasnya.
 
Ahli sejarah Sufi menceritakan bagaimana Harun  dan  Perdana
Menterinya  mengunjungi  Mekah  untuk bertemu dengan Fudail,
yang mengatakan, "Sang Penguasa Kaum Setia: Tampaknya  wajah
Baginda yang cemerlang itu akan jatuh ke api neraka!"
 
Harun  bertanya  kepada  Sang Bijak, "Pernahkah kau mengenal
orang lebih mampu mengambil jarak daripada kau sendiri?"
 
Fudail menjawab,  "Pernah:  Baginda  lebih  mampu  mengambil
jarak  dari lingkungan dunia biasa ini; tetapi baginda telah
mampu  mengambil  jarak  yang   lebih   besar   yakni   dari
keabadian!"
 
Fudail  mengatakan  kepada Kalifah bahwa kekuasaan atas diri
sendiri lebih  berharga  daripada  kekuasaan  selama  seribu
tahun atas orang-orang lain.
 
------------------------------------------------------------
K I S A H - K I S A H   S U F I
Kumpulan kisah nasehat para guru sufi
selama seribu tahun yang lampau
oleh Idries Shah (terjemahan: Sapardi Djoko Damono)
Penerbit: Pustaka Firdaus, 1984

0 komentar:

:)) ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} :)] ~x( :-t b-( :-L x( :-p =))

Posting Komentar

Loading...