Carilah tempat terbaik, orang2 terbaik, dan bicarakan hal2 yg baik, insyallah qt akan jadi yang terbaik

Download Modul

Rabu, 16 April 2014

Pembungkaman MAHAsiswa IT



KRITIS, bukankah itu yang kalian (dosen) anjurkan kepada kami (MAHAsiswa).   Tapi entah mengapa, ketika kami kritis terhadap sesuatu hal, kalian tunjuk kami sesambil mata melotot. Kami mencoba kritis kedua kalinya, kalian injak kaki kami yang penuh luka. Tak putus asa, kamipun mencoba kritis untuk yang ketiga kalinya, tapi kalian copoti pakaian kami sehingga kami telanjang bulat dihadapan mereka. Tapi apa yang kalian lakukan terhadap kami, tidak akan membuat kami mundur satu langkahpun. Meskipun kalian copoti pakaian kami, bukan berarti kami akan menjadi makhluk hina karena kami yakin bahwa Allah SWT yang mampu untuk mengangkat derajat manusia atau menghinakannya.

            Tidak ada seorang tukang baso memarahi pelanggan hanya karna sang pelanggan meminta basonya untuk di tambahkan sambal, atau complain tentang rasa basonya yang gx karuan. Hanya tukang baso yang konyollah yang memarahi pelanggan. Analogi di atas di tujukan untuk orang2 yang anti akan kritik, seolah-olah hidupnya sudah sempurna melebihi kesempurnaan hidup Rasulullah saw. Masih menjadi sebuah misteri, apa yang mendasari kalian anti akan sebuah kritikan, harga dirikah? Kekuasaan kah? Harta kah? Atau atribut keduniaan lainnya? Kami tidak tau, karna kami bukan kalian. Haya sebagai pengingat, sebuah hadist dari Ka’ab bin Malik menerangkan, dari Nabi SAW bersabda, “Tidaklah dua serigala lapar dilepas dari kandang domba lebih merusak dibandingkan kerusakan agama yang diakibatkan rakusnya seseorang terhadap harta dan pangkat”. (Hadist Hasan Shohih riwayat Imam At-Tirmidzi)
            Beasiswa, ya beasiswa. Siapa yang tidak mau akan beasiswa yang semua MAHAsiswa menginginkan itu. Tidak ada yang salah dengan beasiswa, hanya saja akan menjadi salah kalau toh kita diperbudak beasiswa dan di manfaatkan sebagai alat penyumpal bagi MAHAsiswa kritis. Maaf, tidak bagi MAHAsiswa yang tau akan arti “KEMERDEKAAN” kalau toh ternyata beasiswa adalah pembungkam bagi MAHAsiswa kritis, yang selalu bersikap ketika melihat ketidak adilan sosial. TIDAK bagi MAHAsiswa pergerakan, yang selalu bertindak ketika melihat seekor anjing mengotori teras mesjid. Juga TIDAK bagi MAHAsiswa yang agamis, tidak akan pernah menggadaikan atau bahkan menukarkan keyakinan hanya untuk beasiswa yang tidak sebanding harganya dengan sebuah keyakinan.
            Kampus adalah tempat MAHAsiswa untuk berlomba meraih nilai yang memuaskan, siapa yang tidak bangga dengan nilai yang sangat memuaskan. Dirinya bangga, orang tuapun bangga juga tidak lupa para dosenpun bangga. Tapi apakah nilai itu dapat dipertanggung jawabkan? Ya pastilah, mudah-mudahan. Hanya saja yang perlu menjadi catatan bagi seorang MAHAsiswa khususnya, tidak ada yang salah dengan berlomba meraih nilai bagus, namun salah kalau di perbudak oleh nilai. Apalagi jangan sampai, nilai yang di iming-imingkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab, membuat MAHAsiswa semakin terkekang atas apa yang menjadi ideologinya, dan semakin mundur untuk memperjuangkan semua haknya.
            Bebaslah kawan, bebaskan pikiran, pendapat, tubuh, juga hati kalian. Hanya Allah SWT lah yang berhak mengatur kehidupan kita, jangan duakan DIA, dg rasa takutmu kepada makhluk. Wallahu a’lam.

2 komentar:

ade sutrisna

makanya kita harus masuk kedalam dan membongkarnya..

Dhika Hardhika

membongkar bakar ikan lebih mantaaap..... x(

:)) ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} :)] ~x( :-t b-( :-L x( :-p =))

Posting Komentar

Loading...